Showing posts with label Kicau. Show all posts
Showing posts with label Kicau. Show all posts

Monday, October 24, 2022

Daur Ulang Sampah Perasaan; Wujud Mencintai Diri Sendiri

Monday, October 24, 2022 0 Comments

 



Sabtu malam atau orang-orang terbiasa menyebutnya malam minggu. Hujan masih bernyanyi di luar sana. Itu artinya, sinyal internet akan sedikit bergejolak. Naik turun bahkan hilang. Semoga masih terkendali dengan baik agar bisa tergabung dengan zoominar bersama Kak Jee Luvina dan Bunda Erlik Isfandiari dengan tema yang tidak kalah menarik dengan zoominar sebelumnya. Tema kali adalah "Mengolah Rasa Jadi Karya". Zoominar ini masih diselenggarakan oleh Nulisyuk. Sebuah komunitas yang menjadi teman menulis, menyelenggarakan kelas menulis online baik berbayar maupun gratis. Aku sudah lama mengikuti Nulisyuk di media sosial instagram, namun baru  tergerak untuk join pada zoominar "Self Healing with Writing". 


Sejak SMA, aku terbiasa menulis buku harian. Isinya macam-macam. Mulai dari perasaan sehari-hari sampai menulis puisi. Aku berhenti menulis buku harian setelah bekerja. Aku merasa perasaan-perasaan tidak penting (kecewa, sedih, capek, gagal) tidak perlu aku tulis. Saat itu aku merasa, bahwa aku harus fokus pada impian-impianku. Saat sedih, aku pendam, kalau sudah tidak tahan, menangis malam-malam. Aku memendam segalanya sendiri. Aku mulai menulis buku harian lagi (walaupun tidak rutin) setelah menikah. Aku perlu meluapkan segala rasa yang aku tidak yakin untuk bercerita kepada pasangan, apalagi orang tua. Namun, aku lebih sering mengabaikan segala gejolak yang ada dalam hati. Berharap akan menghilang dan leyap tanpa bekas.


Setelah aku mendengarkan penuturan dari Kak Jee dan Bunda Erlik, ternyata kita perlu mengeluarkan sampah-sampah dari hati. Kita perlu mengalirkan segala perasaan tidak  nyaman agar tidak menggenang dan berbau. Kita dapat meluapkan segalanya melalui tulisan. Tulis apa saja yang kita rasakan. Segala perasaan tidak nyaman itu, Allah yang menciptakan dan pasti punya tujuan. Kita bisa mengelola segala emosi tersebut kemudian mengubahnya menjadi rasa syukur. Lebih lanjut lagi mengubahnya menjadi karya. 


Saat sesi latihan, aku mencoba mengalirkan perasaan tidak nyaman yang aku rasakan saat itu. Kemudian, Kak Jee mengarahkan untuk mengubah menjadi kalimat positif. Langkah selanjutnya, ubah kalimat positif tersebut menjadi kalimat inspiratif. Lakukan itu terus menerus, kemudian dipilah dan disaring yang satu tema. Mengolah, mendaur ulang segala sampah perasaan menjadi... treenggggggg...buku, sebuah karya yang bisa menginspirasi orang lain. 


Hidup hanya sekali, jadilah berarti. So, kita perlu menyelesaikan permasalahan diri sendiri, self healing dengan mengalirkan rasa, menulis apapun yang sedang dirasakan. Setelah itu, marilah membangun bonding dengan diri sendiri (self bonding), agar kita paham apa yang diimpikan, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan lupa menambahkan MISS (Menerima, Ikhlas, Sabar dan Syukur) dalam setiap mengolah sampah perasaan.


Alhamdulillah, atas ijin Allah bisa memperoleh ilmu melalui Kak Jee dan Bunda Erlik. Barangkali ini sebuah tanda, untuk mulai mendaur ulang sampah perasaan dengan serius. Semoga Allah terus memudahkan langkahku. Terus berbenah, merawat syukur, memelihara kesabaran. Menikmati setiap fase, mensyukuri setiap episode dan terus menebalkan kesabaran untuk segala rasa yang datang menyapa. Mendaur ulang sampah perasaan adalah bukti bahwa kita mencintai diri sendiri dengan sebenarnya. 


#selfhealingwithwriting

#mengolahrasamenjadikarya

#selfbonding

#nulisyuk




Friday, October 14, 2022

Self Bonding with Writing, Writing is Healing

Friday, October 14, 2022 0 Comments


Sudah lama rumah ini tidak ku sambangi. Hari-hariku di telan rutinitas dan kewajiban lain. Seharusnya aku masih bisa menyapanya meski hanya beberapa kalimat. Namun, fakta berbicara lain. 


Aku tidak menyadari bahwa ada bertumpuk-tumpuk keinginan yang tidak sesuai kenyataan yang tumbuh menjadi kekecewaan, kemarahan, iri dan perasaan lainnya. Aku seringkali menyesali kenapa aku melewatkan banyak hal yang seharusnya membuatku menjadi seperti ambisiku. Hingga puncaknya, aku gagal meraih apa yang aku mau. Satu lagi, aku merasa belum bisa menjadi ibu yang maksimal membersamai tumbuh kembang anakku.


Perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran liar tidak sadar membuatku jauh dari rasa syukur dan produktif. Aku melarikan diri ke dunia maya baik media sosial maupun belanja online (tepatnya milih barang dan memasukkan ke dalam keranjang tidak berujung chekout) yang awalnya aku anggap sebagai refreshing. Kenyataannya, aku justru terlempar jauh dari kata "fresh". 


Aku belum bisa begitu bebas mengekspresikan segala kegelisahan, kemarahan, kekecewaan dan keinginan kepada pasangan hidupku. Aku merasa bahwa ini harus aku selesaikan sendiri. Aku butuh menyembuhkan diriku dengan caraku. Aku sering mendengar bahwa dengan menulis bisa menjadi salah satu cara healing. Aku pun sudah mencobanya, namun belum sepenuhnya berhasil. Saat aku melihat flyer webinar gratis tentang Self Healing with Writing yang akan diisi oleh Kak Jee Luvina dan Bunda Erlik Isfandiari, tergerak tanganku untuk mendaftar. Aku berharap aku bisa lebih maksimal melakukan penyembuhan.


Aku tidak bisa menahan air mata saat Kak Jee dan Bunda Erlik menyampaikan materi. Apalagi saat mereka membaca komentar dari peserta. Ada yang sama dengan kondisiku. Merasa tidak maksimal dalam diri, ada bertumpuk kekecewaan yang tidak selesai. Bunda Erlik menyampaikan bahwa kalau anak-anak di rumah rewel berarti ada masalah dalam diri orang tuanya. Aku langsung menangis. Bukan anakku yang banyak maunya, tetapi aku. Ibunya yang belum selesai dengan dirinya.


Kak Jee menambahkan bahwa kita harus bahagia dulu, sebelum membahagiakan orang lain. Oleh karena itu, kita perlu mengenal diri kita lebih baik, kita juga perlu terhubung dengan diri kita sendiri atau isitilah kerennya self bonding. Jika kita sudah terhubung dengan baik dengan diri sendiri maka kita akan paham kondisi diri kita itu sedang bagaimana, maunya apa dan harus seperti apa menyikapi dan menyelesaikannya. Semoga Allah memberikan aku kesempatan untuk mengikuti kelas "Self Bonding with Writing". Aamiin.


Terima kasih Allah, telah membantuku menjadi lebih baik lagi. Terimakasih Kak Jee dan Bunda Erlik. Terimakasih teman-teman peserta webinar atas energi baik yang kalian pancarkan. Terimakasih aku, yang mau berproses menjadi lebih baik lagi.





Tuesday, November 12, 2019

Sekedar Melepas Rasa

Tuesday, November 12, 2019 0 Comments

Luka itu semakin bertumpuk-tumpuk, jika ku benahi lalu kusimpan. Aku selalu berusaha untuk mengabaikannya. Biar luruh dan aku tidak ingat lagi.

Rumah tangga memang tak selalu sweet seperti stori di instagram atau konten vlog di youtube. Ada banyak perbedaan yang memicu konflik, ada banyak kesalahpahaman yang memicu curiga dan kemarahan. Masing-masing memang harus menyadari dan memahami pasangan masing-masing. Sedikit saja menurunkan ego masing-masing, agar konflik itu tidak membesar.

Konflik dalam rumah tangga sejatinya memang perlu agar satu sama lain di kemudian hari memahami dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Konflik itu sejatinya mendewasakan bukan meninggalkan luka. Nah, disinilah peran masing-masing untuk meredakan dan menyelesaikan sangat berpengaruh.

Hampir tiga tahun aku hidup bersama dengan suamiku, tak lantas membuatku memahaminya dengan penuh pun sebaliknya. Memahami satu sama lain ya selama pernikahan itu berlangsung, hingga batas waktu yang ditentukan Alloh.

Aku belajar dari pernikahan kedua orang tuaku yang banyak konflik, maka sebisa mungkin aku menghindarinya, meski ujungnya aku yang terluka. Tetapi itu sudah menjadi pilihanku. Berdebat panjang, menyalahkan dengan nada tinggi, ngomel-ngomel tidak akan menyelesaikan masalah, karena suami tidak suka istrinya ngomel-ngomel. Aku memang lebih sering diam berkepanjangan atau cemberut dan pasang muka masam jika sedang marah atau tidak suka. Ini pun bukan solusi, tetapi setidaknya itu wujud dari ekspresi. Tinggal berdekatan dengan mertua membuatku bisa menahan untuk tidak bernada tinggi. Dan sebaiknya memang begitu, menyelesaikan masalah tidak harus saling ngegas. 

Aku selalu menasehati diriku sendiri ketika kekecewaan itu datang melanda. Kembali menegaskan bahwa aku memilihnya dengan penuh kesadaran, bukan dalam keadaan mimpi. Aku berusaha untuk mensyukuri apapun yang menjadi rejekiku melalui pasanganku. Rejeki dalam artian yang luas, bukan hanya soal materi. Aku berusaha merasa cukup meski keinginan ini membuncah. Aku berusaha untuk menerima, meski kadang hati bergolak meminta lebih. Aku berusaha untuk menahan lidahku untuk tidak mengumbar masalah dan apapun yang menyangkut kehidupanku bersamanya.

Jika ditanya apakah aku bahagia memilikinya? Ya tentu saja. Apakah aku kecewa? Ya sebagian. Apakah aku menyesal? Tidak, karena ketika aku menikah dengan orang lain pasti akan ada ujian yang lain lagi. Bukankan Alloh Maha Mengetahui apa yang paling tepat untuk manusia? Maka bersyukur dan terus berdoa untuk kebaikan suami adalah obat yang paling mujarab atas segala rasa yang datang siling berganti.

Kebahagiaan itu harus diciptakan oleh diri sendiri. Menuntuk orang lain untuk membahagiakan diri sendiri itu tidaklah tepat, karena ukuran kebahagiaan untuk diri sendiri itu ya dirinyalah yang paling tahu. Berhenti menuntut orang lain termasuk pasangan sendiri, lakukan sesuai dengan kemampuan. Berbuat baik semaksimal mungkin, nanti Alloh yang akan membalasnya.

Ketenger, 12 November 2019 15:30

Sunday, September 22, 2019

Uneg-uneg

Sunday, September 22, 2019 0 Comments


Sudah satu jam menatap layar monitor. Belum ada satu kalimat pun yang meluncur untuk merangkai proposal yang harus segera kuselesaikan. Target tahun ini harus sudah selesai penelitian, artinya proposal harus kelar dan lolos seminar.

Aku harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai.Bukankah memang kenyataan tak selalu sama dengan angan dan harapan? Bukankah memang demikan lebih sering? Berdiam diri tak akan pernah menyelesaikan apapun. Berfikir saja tanpa mencoba mengerjakan juga tidak akan berdampak apapun.

Waktu yang sudah dibuang untuk melamun dan buka online shop tanpa membeli, serta merelakan anak dipegang sama si mamak harus segera dihentikan. Pelarian macam itu hanya akan membuat otak semakin enggan untuk menyelesaikan.

Sudah mundur target satu bulan, hingga akhir tahun masih ada waktu tiga bulan.Ups, ternyata singkat sekali bukan? Ternyata hidup ngga jelas melenakan. Berarti dalam dua bulan harus selesai proposal dalam artian lolos seminar. Punya waktu satu bulan untuk penelitian. Awal tahun 2020 sudah harus selesai analisis data, dan mulai menulis pembahasan. Dan ternyata aku hanya punya waktu enam bulan untuk menyelesaikan tesis, submit jurnal hingga sidang. September 2020 harus sudah masuk kantor lagi. Waktu cepat sekali berlalunya. So, mulai sekarang tidak ada lagi santai-santai sementara pekerjaan masih mambrah-mambrah alias berantakan.

Well, aku juga harus memikirkan langkah ke depan buat anakku. Apakah tetap mau sama mamak atau day care, plus financialnya. MasyaAlloh, kalau dibayangkan so hard. But Alloh always be there.

Semangat. Keep Fight!

*Mulai hari ini aku akan menulis jurnal. Dan sepertinya perlu menerapkan reward and punishment buat diri sendiri biar disiplin.

Semoga Alloh mudahkan. Aamiin.

Wednesday, June 26, 2019

Semoga Alloh Mudahkan

Wednesday, June 26, 2019 0 Comments
Hasil gambar untuk berdoa kepada allah



Tahun 2019 sudah menemui pertengahan. Dan ternyata, tahun 2019 ini sama sekali aku belum meninggalkan jejak. Hari ini perasaan kacau datang kembali. Perasaan yang hadir setelah kekecewaan datang lebih dahulu. Kecewa pada diriku sendiri. Segala angan, harapan dan idealisme menguap begitu saja. Hilang. Dan aku kacau kemudian.

Saya memang tidak boleh memaksa dan memang tidak bisa. Yang harusnya aku lakukan adalah merubah diriku untuk menjadi lebih baik. Yakinlah bahwa kebaikan akan memantul. Kebaikan yang memang benar-benar kau upayakan. Bukan hanya sekedar pencitraan.

Dulu, ketika mengambil amanah ini adalah dengan tujuan agar aku lebih banyak bisa sama anakku. Secara fisik iya, tetapi jiwaku entah kemana. Sibuk dengan pikiran-pikiran yang entah. Aku tidak signifikan memberikan full jiwa dan ragaku, tetapi aku menuntut anakku seperti inginku. Ini egois bukan? Maafkan Bunda, Nak!

Waktu berjalan begitu cepatnya, padahal semua akan dihisab berdasarkan niat dan amalannya. Memang segalanya tidak selalu sama dengan ingin, makanya manajemen yang baik tentang diri, waktu, keuangan itu sangat penting. Tegas dan disiplin buat diri sendiri terutama.

Semoga kekacauan ini berimbas pada semangat untuk berbenah, bukan malah semakin kacau atau bahkan down. Semoga Alloh mudahkan. Aamiin.


Monday, September 10, 2018

Bertahan atau Gugur?

Monday, September 10, 2018 0 Comments
source : detik.net


Ini hari ke tujuh dalam rangkaian permulaan one Day One Post (ODOP), harusnya sudah ada tujuh postingan yang nangkring di blog. Namun, kejadiannya tidak seperti yang ditargetkan atau diharapkan. Baru ada tiga postingan, separuh saja belum. Ini ancaman, karena aturan yang telah ditetapkan tidak terpenuhi. Besok adalah hari penentuan, apakah masih bisa bertahan atau tidak.

Alasan paling kuat kembali ikut bergabung dalam komunitas adalah menghidupkan blog ini. Komunitas ODOP sudah memberikan fasilitas sedemikian rupa, mulai dari pemberian materi hinga memberikan tips dan trik bagaimana untuk survive di dunia menulis. Para Admin dan teman-teman yang lain juga sudah memberikan semangat yang luar biasa agar bisa menulis setiap hari. Tidak hanya sekedar menulis tanpa makna, sekalipun itu tulisan yang berisi curhat, upayakan tulisan yang diposting bisa memberikan hikmah, pengetahuan atau inspirasi bagi pembaca. Dan ternyata, komitmen menulis setiap hari sepenuhnya ditentukan oleh diri sendiri. Seberapa kuat upaya yang dilakukan untuk tetap komitmen menulis meski kesibukan merampas hari itu.

Saya, tidak akan menyalahkan siapapun ketika memang takdirnya tidak bisa bertahan kembali di komunitas ini. Saya memang harus memaksa diri lebih keras lagi untuk terus mengisi otak dengan nutrisi yang cukup dan melatih otak berfikir lebih variatif. Termasuk dalam menulis. Saya harus menemukan formula yang tepat, cara yang paling efektif. Saat ini belum, tetapi saya yakin esok pasti bisa, asal dilakukan.

Detik jam, terus berlalu. Sudah pukul 00.00 lebih, artinya batas untuk satu pekan sudah terlewat. Saya akan tetap menulis dan memposting tulisan ini. Ini bagian dari upaya, jika pada akhirnya saya keluar insyaAlloh akan memberikan pelajaran tersendiri.
Hari ini, saya pulang ke rumah Ibu dan anak saya baru bisa tertidur lelap saat jarum jam berada pada angka 23. 45. Menulis 300 kata dalam waktu lima belas menit? Sebenarnya bisa kalau sudah terbiasa dan apa yang ingin ditulis sudah mengalir deras. Namun jika masih membutuhkan waktu untuk berfikir waktu lima belas menit tidak akan cukup. Dan ini terbukti. 

Apapun yang akan terjadi, sudah menjadi resiko dan harus dihadapi. Ketika menulis menjadikan hati dan pikiran lebih segar, harusnya aku tidak akan berhenti melakukannya. Ketika membaca menjadikan hati dan pikiran lebih arif dan solutif, harusnya aku akan tetap menjadikannya cemilan atau bahkan makanan pokok. Ketika memang saya harus gugur bahkan di awal, harusnya tidak akan menjadikan blog ini kembali berdebu.



Saturday, September 8, 2018

Kuliah Lagi

Saturday, September 08, 2018 0 Comments


Ini adalah pekan pertama perkuliahan dimulai. Ada bahagia yang menyeruak, bagaimana tidak, Alloh mengabulkan salah satu mimpi yang saya tuliskan. Meski bukan pada waktu dan tempat yang sesuai. Dulu saya menuliskan,  S2 tahun 2013 di luar negeri atau Universitas dalam negeri yang ternama. Namun takdirnya tidak demikian, saya justru kembali ke almamater S1 dulu. Barangkali ini adalah waktu dan tempat yang paling tepat menurutNYA. Dan yang paling membahagiakan  dan tidak bisa ditukar dengan apapun adalah mempunyai waktu yang lebih dengan anak.

Kuliah saat masih sendiri dengan setelah mempunyai suami dan anak memang berbeda ditambah bilangan usia yang semakin menggemuk. Konsenterasinya sering terbagi. Terkadang saat Dosen sedang memaparkan materi, tiba-tiba terlintas bayangan si kecil. Ia sedang apa di rumah, mau makan atau tidak ya? Atau terpikir hal lain seperti nanti sore memasak apa ya? serta pikiran-pikiran lain yang tiba-tiba saja menyita konsentrasi. Ini salah satu tantangannya. Sedangkan tantangan yang lain tentu masih banyak dan dibutuhkan setrategi khusus biar semuanya berjalan seimbang.

Kuliah saat S1 dengan sekarang S2 harmoninya berbeda. Mulai dari jumlah mahasiswa, perbedaan usia dan latar belakang, sistem pembelajaran dan tututannya, waktu dan ruangan perkuliahan dan lain sebagainya. Jumlah mahasiswa dalam satu angkatan relatif lebih sedikit, meski untuk jurusan tertentu tidak jauh berbeda dengan saat S1. Usia mahasiswa S2 beragam dan perbedaannya terkadang ekstrim karena biasanya orang-orang yang mengambil S2 adalah mereka yang sudah bekerja dan tidak ada batasan usia. Sistem pembelajarannya sedikit berbeda dengan S1 dan mahasiswa dituntut untuk lebih aktif serta mampu mengeksplorasi ilmu lebih dalam dan luas. Tidak bergantung dengan apa yang disampaikan oleh Dosen. Waktu perkuliahan biasanya di akhir pekan dan marathon, meskipun tidak menutup kemungkinan waktu perkuliahan seperti saat S1. Ini tergantung program regular atau weekend. Ruang perkuliahan lebih nyaman ini sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Jurusan yang tersedia dengan beasiswa yang saya ajukan sedikit berbeda dengan jurusan saat saya S1. Ini ternyata memberikan tantangan tersendiri. Energi yang dibutuhkan lebih besar dibanding jika saya mengambil jurusan yang searah. Saya harus mempelajari berbagai materi yang ketika S1 tidak diajarkan, ini perlu upaya dan keyakinan yang kuat bahwa saya harus berhasil dan bisa menyelesaikan tepat waktu.

Satu pekan ini otak saya mengalami penyesuaian. Aktivitas saya juga mengalami penyesuaian. Semoga semuanya bisa berjalan sebagaimana mestinya. Aamiin.

Monday, September 3, 2018

Dalamnya Laut dapat Diduga, Dalamnya Hati Siapa Tahu

Monday, September 03, 2018 4 Comments
doc.pribadi


“Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu.”

Sebaris kalimat peribahasa yang dulu pernah akrab di telinga, ketika otak ini belum penuh dengan rangkaian peristiwa, ketika seratus rupiah masih bisa untuk membeli aneka permen, ketika harga bakso masih bisa dijangkau dengan harga lima ratus rupiah. Dulu, sebatas hafal, baik kalimat maupun makna yang dimaksud. Fasenya memang dulu demikian, sebatas tahu saja, berpikirnya belum sampai pada makna kehidupan. Sekarang, kalimat itu tidak hanya peribahasa, akan tetapi memang kenyataannya demikian. Tak ada yang bisa menakar dalamnya hati, kecuali dirinya dan Sang Pencipta.

Hati. Dalamnya tak ada yang tahu, warnanya tak terlihat, gejolaknya tak teraba. Dalam-dangkal, keras-lembut, pekat-putih, semua terlihat samar. Namun, segalanya bersumber dari sana. Raga ini mengikuti bisik hati yang kemudian diolah oleh otak, terkadang keduanya berseberangan, terkadang searah, dan tentu saja bergantung pada kemampuan diri melatihnya. Memang benar semuanya Alloh yang mengatur. Dialah yang membolak-balikkan hati manusia. Namun, manusia juga turut andil dalam mewarnainya. Tersebab nafsu yang melekat di dalam diri manusia.

Yang terlihat, terucap, belum tentu sama dengan yang dirasa, disimpan dan diangankan. Begitu anggunnya hati menyembunyikan yang busuk, buruk, menyakitkan, dendam, iri, tulus, penyayang, pemaaf, penolong dan sejumlah sifat lainnya. Sinyal hati hanya bisa ditangkap oleh antena hati. Keburukan atapun kebaikan akan tetap bisa terasakan seiring dengan bertambahnya kadar masing-masing. Keduanya akan meniti jalannya sampai ujung cerita yang endingnya Alloh takdirkan.

Oleh sebab yang ada di dalam hati tak terlihat, kita bisa memilih sikap apapun yang diinginkan. Baik dan buruk segalanya adalah ujian dan pilihan. Kemudian, takdir hadir atas pilihan dan upaya manusia. Alloh memberikan larangan, perintah dan juga anjuran berikut akibat dari setiap pilihan yang diambil. Tidak ada paksaan dalam menentukan pilihan.

Alloh anugerahkan akal kepada manusia untuk berpikir, menimbang baik dan buruk, membawa manfaat atau sebaliknya. Alloh sediakan dua jalan di dunia, baik dan buruk. Manusia sendiri yang akan memilih. Masing-masing dari pilihan akan membawa takdir yang berbeda, kisah yang berbeda dan rasa yang berbeda.






Thursday, August 23, 2018

Babak Terhebat dalam Hidupku

Thursday, August 23, 2018 2 Comments



Barisan waktu yang telah lalu bersama segala episodenya akan menjelma menjadi masa lalu dan kenangan. Manis dan pahit, keduanya berpeluang menghuni hati, mengisi memori. Lembaran-lembaran kenangan akan menempati porsi yang berbeda-beda, ada yang terlalu manis, ada juga yang terlalu pahit. Ada yang biasa saja hingga tak berbekas ada yang begitu dalam hingga enggan untuk terlupakan. Begitulah garisnya, sebab hidup seperti buku cerita. Ada prolog, klimak dan epilog.

Tiga puluh tahun, bilangan usia yang kini aku genggam. Ada banyak kisah yang kemudian menjadi kenangan. Manis, pahit, hambar, asam dan lainnya pernah aku kecap. Terkadang, ketika lintasan kenangan kembali menghampiri, rasa syukur itu kemudian membuncah. Alloh Maha Baik. Dari sekian lembar kenangan yang sudah kuabadikan, tentu  ada yang membekas terlalu dalam hingga mendatangkan hikmah yang tak kalah hebatnya. Menjadi Ibu, adalah bagian dari sejarah hidup yang paling menguras emosi. Bahagia, terharu, sakit, meluruhkan ego, berkorban dan lain sebagainya.
Lagu “Kasih Ibu” ciptaan SM Mochtar memang demikian adanya. Kasih Ibu kepada anaknya tak terhingga dan tentu saja tanpa pamrih. Aku baru merasakan ini, saat melahirkan. Di antara rasa sakit yang begitu hebat saat kontraksi, rasa dosa dan bersalah kepada Ibu terus bermunculan. Ternyata melahirkan itu sakit dengan rasa sakit yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Betapa, aku sudah melukai perasaan orang yang rela melakukan apapun demi anaknya. Ini baru melahirkan.  

Babak selanjutnya yang tak kalah hebat adalah menjalani awal-awal sebagai Ibu. Jam tidur berantakan, badan lelah, emosi susah terkontrol namun dituntut untuk slow dan itu sesuatu banget. Ini hanya bisa dirasakan ketika menjadi Ibu (semoga yang belum merasakan dikasih rejeki untuk merasakan ini). Semakin dalam rasa bersalah sama Ibuku, menyesal karena belum banyak yang dilakukan untuk membahagiakannya, memenuhi keinginannya. Dan sekarang, prioritas tentu akan beralih kepada anak (semoga Alloh memberikan keberkahan kepada Bapak dan Ibu). Tak pernah terbayangkan jika episodenya benar-benar berubah dari sendiri – menjadi istri – menjadi istri sekaligus Ibu dan bekerja. Perubahan yang ternyata belum aku siapkan, awal-awal jelas merasa shock dan lelah. Akan tetapi seiring waktu berlalu, perlahan mulai berdamai meski hal-hal yang dulu ketika bisa dilakukan dengan mudah kini harus penuh perjuangan, membaca dan menulis misalnya. Namun, tetap harus bersyukur atas episode ini.

Akan ada babak selanjutnya yang bisa jadi akan lebih dalam meninggalkan kenangan seiring dengan bertambahnya bilangan usia dan tanggung jawab. Suatu ketika, setelah jauh melangkah dan menengok kembali berbagai perjuangan yang telah dilakukan akan meninggalkan simpul senyum dan buncah bahagia. Lalu porsi sukur dalam hati atas segala nikmat yang sudah Alloh kasih akan terus meningkat.

Tulisan ini bukan hanya sekedar untuk syarat pendaftaran Komunitas ODOP (One Day One Post) yang dulu aku pernah ada di dalamnya, namun juga sebagai pengingat bahwa menjadi Ibu adalah kenangan yang paling hebat menghuni hati dan memori. Aku masih harus terus berjuang meningkatkan kualitas diri untuk mendampingi tumbuh kembang anakku. Jika ingin anakku baik, maka aku harus menjadi baik yang bukan hanya sekedar pencitraan.


#DAFTARODOP6

Bojongsari, 23 Agustus 2018




Tuesday, July 17, 2018

Random

Tuesday, July 17, 2018 0 Comments
Source : google


Kosong. Sekian lama rumah ini dibiarkan kosong. Tak terawat. Penghuninya pergi. Entah karena sibuk atau tenggelam dalam luang waktu.

Di antara bilangan waktu yang sudah pergi, ada kekacauan yang ku tutupi, lebih tepatnya kuabaikan. Di antara bilangan waktu yang terlewat begitu saja, ada dunia yang ku kaburkan, ku biarkan lengah lalu melemah. Ada yang kurang dan serasa ada yang hilang.

Hati ini mendadak riuh, menimbang banyak hal yang tak perlu. Pikiran ini mendadak penuh, memikirkan hal-hal yang seharusnya bisa ku sederhanakan. Terkadang, merasa bahwa ini bukan diriku. Hidup seperti bukan hidup. Ramai tetapi sepi. Lelah tetapi kosong.

Deretan angan-angan yang dulu berbaris rapi, satu per satu terbang lalu pecah dan entah. Apakah ini yang bernama ketidaksiapan? Atau aku yang tidak pandai mengenali sinyal Tuhanku?

Menikah adalah menunaikan sunnah dan menyempurnakan yang setengah. Harusnya energi yang tadinya nyaris tandas terus bertambah seiring meningkatnya bilangan usia nikah dan amanah. Harusnya segalanya bertambah yang baik-baik bukan malah sebaliknya. Harusnya.

Masih terus mempertanyakan, kenapa ada semacam degradasi hidup yang ku alami. Ada semacam bongkahan-bongkahan yang sulit untuk dipecahkan. Atau memang sedang ada yang salah dengan diri ini. Ah,...barangkali ini penyebab terkuatnya.

Waktu tidak pernah mau menunggu bukan? Dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Kalau segalanya seperti hilang bukan salah episodenya tetapi aku yang tak pandai menata. Alasan-alasan yang ku buat harusnya mampu menguatkan untuk tetap menjalankan apa yang menjadi bagian dari diriku. Bukan tak mampu hanya masalah mau. Mau untuk berdamai dengan semuanya dan kembali berbenah.

Tidak ada pilihan yang tak beresiko. Berhenti membandingkan dan berandai-andai. Bersyukur dan terus menguatkan kesabaran. Selalu ada hal-hal baik di masa yang akan datang atas kebaikan-kebaikan yang selalu diupayakan.

*tulisan random sebagai langkah awal untuk kembali lagi

Friday, April 6, 2018

Bawang Merah, Bawang Putih dan Kedelai

Friday, April 06, 2018 0 Comments


Saat ini pemerintah sedang heboh-hebohnya mencanangkan program mandiri benih terutama benih bawang merah, bawang putih dan kedelai. Tiga komoditas yang hampir setiap hari kita butuhkan.

Bawang merah dan bawang putih (seperti judul sinetron) adalah komponen yang wajib ada dalam urusan memasak (kecuali kue). Tanpa mereka masakan tidak akan sempurna. Sedangkan kedelai, ini bahan utama pembuatan tempe, makanan favorit masyarakat indonesia. Bisa dibayangkan betapa menyesaknya makanan yang murah dan enak ternyata bahan utamanya harus impor? Dikemudian hari bisa jadi tempe menjadi bahan makanan mahal tersebab bahan utamanya yang tidak tersedia dalam negeri.

Alasan di atas menguatkan pemerintah untuk terus memacu para penangkar benih, instansi terkait dan para petani menyediakan benih dan mengembangkannya. Ketiga komoditas tadi bukan komoditas yang mudah dibudidayakan terutama benihnya. Umur benihnya yang relatif singkat, serangan hama penyakit di lahan, teknologi off season yang belum banyak berhasil, prosesing benih yang tidak tepat menyebabkan ketersediaan benih terus mengalami kemunduran. Kalau benih tidak ada, mustahil dihasilkan produk konsumsi.

Program pemerintah terkait dengan bawang merah adalah pengembangan benih dengan biji yang targetnya pada tahun 2045 semua benih bawang merah menggunakan biji. Penggunaan benih dengan biji memiliki keuntungan lebih banyak dibanding dengan menggunakan umbi. Serangan hama penyakit yang menjadi momok selama ini bisa terminimalisir, fluktuasi harga benih bawang merah tidak mempengaruhi harga bawang merah konsumsi (umbi). Upaya ini memang membutuhkan proses yang lama dan dana yang tidak sedikit.

Sedangkan program pemerintah teekait bawang putih adalah pengembangan sentra benih bawang putih di daerah-daerah tertentu. Introduksi benih bawang putih dari luar negeri mulai menampakan hasil. Salah satu daerah yang di daulat untuk introduksi bawang putih adalah Temanggung, kota tercinta. Target pemerintah tahun 2019 nanti adalah swasembada benih bawang putih.

Program khusus kedelai mulai dicanangkan sejak 2015, pemerintah terus menggulirkan dana untuk menyediakan benih kedelai. Sayangnya, hingga tahun 2018 program ini belum juga berhasil. Sebagian penangkar benih kedelai mulai enggan untuk memproduksi benih kedelai. Jumlah petani kedelai juga semakin menurun.

Kalau ketiga komoditas tersebut sudah tidak lagi menghiasi pertanian negeri ini, maka bisa dipastikan harga sepotong tempe bisa lebih mahal dari satu porsi steak, nasi goreng dan mie goreng tidak akan selezat sekarang. Apalagi ditambah urusan cabai yang turut bermain. Semoga program pemerintah ini tidak berakhir dengan turut berakhirnya masa menteri bertugas. Semoga bukan program kampanye yang hanya eksis pada masanya.
Di atas kereta Semarang-Purwokerto

Tuesday, April 3, 2018

Emas Hijau dan Janji Kehidupan

Tuesday, April 03, 2018 0 Comments

Tiga puluh tahun lalu, saya terlahir di sebuah desa yang sebagian besar masyarakatnya bergantung pada hasil bumi. Konon katanya kondisi perekonomian waktu itu tidak seperti sekarang. Ini sih jelas ya, sudah beda zaman tentunya.

Saya lahir di Temanggung, sebuah kota kecil yang tak terkenal, namun begitu di sebut tembakau langsung tersebut nama kota di mana saya dilahirkan. Tembakau merupakan bahan pokok dalam pembuatan rokok. Dari rokok ini pendapatan devisa negara bertambah. Peringatan bahaya merokok yang dicantumkan dalam bungkus rokok tidak mempengaruhi turunnya jumlah perokok. Reklame di jalan-jalan yang menghimbau jauhi rokok tersebab bahaya yang ditimbulkan, sama sekali tidak memberikan dampak positif. Perusahaan rokok semakin jaya dan tembakau tetap tumbuh dengan gagahnya.

Tembakau atau kemudian dikenal dengan emas hijau yang tumbuh subur pada musim tanamnya memang menjanjikan kemewahan bagi empunya. Harga per kilogramnya fantastis untuk ukuran hasil bumi berupa daun. Tidak ada yang tidak tergiur, apalagi jika daun-daun yang diperam mampu mengahasilkan tembakau srintil yang harga per kilogramnya bisa menembus jutaan rupiah. Bisa dihitung berapa keuntungan yang akan diperoleh sekali musim tanam. Tidak heran jika setelah musim tanam tembakau berakhir, banyak mobil baru berjajar di depan rumah para petani tembakau.

Sebagai seorang sarjana pertanian yang tidak pro rokok, pernah terfikirkan bagaimana caranya menggeser tembakau dari singgasananya dengan tanaman yang juga tidak kalah profitasnya. Ini bukan pekerjaan ringan. Budaya, keyakinan masyarakat dan janji kehidupan yang ditawarkan oleh tembakau menjadi tembok yang paling kuat. Harus melibatkan banyak pihak termasuk pemerintah daerah dan pusat. Pemerintah menjadi kunci dalam upaya pergeseran tersebut, tersebab regulasi yang mengatur boleh tidaknya tanaman itu tumbuh dan berkembang adalah pemerintah.

Misalnya nikotin yang terkandung di dalam tembakau dapat digolongkan obat-obat berbahaya sebagaimana ganja tentu pembuatan regulasi yang mengatur tentang tembakau lebih mudah. Barangkali bahaya nikotin tidak sebesar ganja. Padahal bahaya merokok dan penghisap asap rokok jelas-jelas ada dan tidak ringan.

Emas hijau adalah pembawa keberuntungan sekaligus malapetaka, menurut saya. Banyak masyarakat yang hidupnya bergantung padanya, bahkan banyak anak-anak muda yang bisa meraih cita-citanya berkat beasiswa perusahaan rokok. Negara ini juga mendapat devisa yang tidak sedikit juga dari tembakau dan rokok. Namun bahaya yang mengancam juga tidak ringan.

Jika dikalkulasi keuntungan dan bahaya yang ditimbulkan tetap lebih besar bahayanya. Dulu, sempat ada rumor rokok harganya mau dinaikkan bahkan ada salah satu stasiun televisi yang serius menggelar dialog mengenai ini. Pro dan kontra. Barangkali jika itu digulirkan dapat mengurangi jumlah perokok dan tentu saja ragam bahaya yang ditimbulkan bisa terminimalisir. Namun hasilnya? hingga saat ini harga rokok masih terjangkau dan jumlah perokok sepertinya kian bertambah.

Si gagah emas hijau memang mempunyai daya tawar tersendiri untuk tetap menjadi tembakau bukan yang lain. Kalaupun kandungan bahan kimia yang terkandung bisa berpotensi menjadi zat lain seperti pestisida misalnya, namun pesona menjadi tembakau tetap lebih menggiurkan.

Bojongsari, 03042018


Sunday, April 1, 2018

Kenapa Benih Harus Diawasi?

Sunday, April 01, 2018 0 Comments

Selamat datang April. Bulan ke-empat di tahun 2018, padahal mau tahun berapa saja, April tetaplah bulan ke-empat.

Tema minggu ini adalah segala yang berkaitan dengan dunia pertanian,  bisa dibilang ini adalah dunia saya. Bukan hanya karena saya dilahirkan oleh pasangan petani dan hidup di desa hingga usia SMP, tetapi juga menjadi hari-hari saya sekarang, menjadi sumber penghasilan saya. Meski sebagian besar pekerjaan saya ada di balik kertas.

Kenapa di balik kertas? Ya, tersebab saya datang ke sawah melihat padi atau jagung yang sedang tumbuh,  kemudian keliling, masuk, lalu mengamati, lalu dicatat. Apakah pertumbuhan dan lokasi sudah sesuai atau tidak dengan berkas pengajuan untuk proses sertifikasi, kemudian saya memutuskan apakah memenuhi syarat atau tidak untuk dijadikan benih. Pekerjaan saya adalahsebagai pengawas benih tanaman, mulai dari proses produksi benih hingga peredarannya. Kelihatannya sederhana, sepele dan santai. Kenyataannya tidak demikian. Keputusan asal bisa berakibat fatal.

Bagi orang awam, pasti heran kok benih diawasi sedemikian, memangnya seberapa penting? Benih adalah salah satu penentu hasil panen. Benih dengan kualitas unggul akan menghasilkan panen yang melimpah dengan dukungan budidaya yang tepat tentunya. Sebagai jaminan kualitas benih, maka harus tersertifikasi yang dibuktikan dengan adanya label. Ya seperti kita membeli produk makanan disitu ada label MUI dan BPOM, pasti kita yang membeli  merasa aman dan yakin. Nah sama, kalau petani membeli benih berlabel dia juga merasa aman dan yakin kalau hasilnya nanti sesuai yang diinginkan.

Pengawasan benih tidak hanya pada saat produksi benih di lapangan, namun juga hingga prosesing, pengemasan hingga peredarannya. Tidak sedikit kasus tentang perbenihan ini dan sampai masuk ranah hukum. Mulai dari label palsu, benih tidak sesuai dengan label, benih kadaluarsa (benih juga ada kadaluarsanya lho) dan lain-lainnya. Benih memiliki masa edar, benih yang sudah kadaluarsa tidak diperbolehkan untuk dijual, karena benih yang sudah kadaluarsa akan mengalami penurunan mutu.

Kenapa benih harus diawasi? Karena benih memiliki peranan penting dalam rangka peningkatan hasil dan kualitas sebuah produk pertanian. Hasil yang tinggi dengan kualitas yang top akan menjamin tercukupinya kebutuhan pangan masyarakat. Jadi kalau benihnya tidak bagus, hasilnya juga tidak bagus, dampaknya ya kita bakalan ngimpor terus.

Baiklah, sampai sini dulu cerita tentang benihnya. Besok disambung cerita yang lain. Nanti terlalu serius.

Thursday, March 29, 2018

Me Time

Thursday, March 29, 2018 0 Comments

Me time,  adalah bahasa bekennya menikmati waktu sendiri yang biasanya dipakai emak-emak jaman now. Me time adalah semacam kebebasan sejenak setelah berkecimpung dengan berbagai kesibukan domestik rumah tangga. Sekedar mengembalikan kewarasan yang biasanya sedikit berkurang setelah rutin melakukan pekerjaan yang menyita energi namun seakan tak ternilai, atau terlihat sepele bagi yang melihat.

Me time bisa dipandang perlu bahkan wajib bagi sebagian orang, namun bisa juga tidak. Me time ini semacam embun di gurun bagi sebagian orang. Me time bisa di dapat ketika urusan selesai dan buah hati terlelap. Bagi ibu baru ini embun banget. Setidaknya bisa bernafas sejenak. Meski ketika baby tidur lama, pasti bilang "kok kamu tidur terus" kangen sama meleknya baby.

Bagi saya, me time itu perlu. Sekedar untuk ngetik curhat ini, atau membuka buku yang berderet minta haknya untuk dibaca atau nonton drama korea (genrenya thriller lho ya ) dan ngopi. Sebagai emak-emak yang belum berpengalaman, tingkat emosinya naik turun sehingga dibutuhkan waktu sejenak untuk menikmati waktu sendiri dengan aktivitas sendiri yang menjadi hobi atau bagian dalam dirinya. Adaptasi dari sendiri menjadi berdua lalu bertiga, jelas butuh energi tersendiri. Bisa jadi sebagian orang meski dia ibu baru, tidak mengalami kendala apapun, dan tidak perlu namanya me time. Namanya manusia pasti beda-beda.

Namanya me time tentu tidak dalam jangka waktu yang lama, apalagi menjadi terlena. Ini hanya sejenak, atau lebih tepatnya memanfaatkan waktu dengan bijak dan menyenangkan. Sebab, perempuan setelah berkeluarga harus tetap eksis, energik dan berwawasan luas. Ingat, ibu adalah madrasah pertama. So, jangan lupa tetap waras dan meningkatkan kualitas diri. Jadikanlah me time sebagai sarana untuk itu.

Selamat berlibur dan tetaplah bahagia meski hanya di rumah saja.

Ketenger 22:00 290318

Wednesday, March 28, 2018

Tetaplah Waras

Wednesday, March 28, 2018 0 Comments

Seandainya islam tidak mengatur tentang adab barangkali medsos (media sosial) ini isinya adalah lomba hujatan, sumpah serapah, dan keluh kesah. Seandainya Alloh tidak memberi rasa malu, pastilah sudah berbuat semau sendiri. Bisa dibayangkan betapa hancurnya dunia ini.

Beberapa hari ini, saat emosi naik turun, pikiran tidak baik berkelebat, ada dorongan untuk menulis status di medsos yang unfaedah. Alhamdulillah otak saya masih ada prosesor baiknya dan Alloh masih berbaik hati menahan. Akhirnya, dorongan itu dapat terhenti. Hingga munculah pengandaian semacam itu.

Manusia itu gampang banget untuk mengeluh, menyalahkan orang lain, marah-marah tidak jelas sampai yang jelas-jelas marah, memfitnah dan lain sebagainya. Kecenderungan seperti itu bisa muncul kapan saja. Nah, di sinilah kewarasan berpikir itu menjadi penangkalnya.

Di era yang serba sosmed ini, mulai dari kampanye hingga jualan, dibutuhkan kewarasan pikir tingkat tinggi sebelum rumah sakit jiwa penuh, sementara pemerintah belum mengganggarkan pembangunan rumah sakit jiwa. Ketika bermedia sosial, maka secara tidak sadar otak kita sedang di uji kewarasannya.

Apakah kita akan biasa saja ketika melihat status orang yang nyinyir? atau justru malah tersindir dan kemudian nyinyir? Apakah kita akan tetap kuat dengan godaan dagangan olshop yang berseliweran di beranda sosmed? Apakah emosi kita akan tetap stabil ketika melihat partai politik yang kita dukung kalah telak? dan masih banyak lagi pertanyaan sadis yang bisa mengancam kejiwaan kita.

Manusia itu beragam sifatnya. Jadi jangan heran kalau ada manusia yang kerjaannya kepo sama kehidupan orang lain, nyinyir sama sukses dan gagalnya orang lain. Ini wajar banget. So, sebelum terjun ke dunia per-medsosan, bekali diri dengan imunitas yang kuat dan do'a yang hebat, agar kita dipertemukan dengan status yang membawa perubahan lebih baik. Pun jika bertemu atau menjumpai status unfaedah, tetaplah santai.

Back to our self. Jika emosi sedang melakukan perjalanan di jalan yang bergelombang, maka luahkan dalam bentuk yang baik. Sama-sama bisa mengurangi benturan kok! Kalau sumpah serapah justru bisa berambigu dan prasangka, kalau menulis positif bisa memberikan inspirasi orang lain untuk lebih baik.

Selamat menulis dan tetaplah waras.


Bojongsari, 14 : 14 280318



Tuesday, March 27, 2018

Email Yahoo Tidak Bisa Dibuka

Tuesday, March 27, 2018 0 Comments



Berjam-jam memandang layar dengan dahi berkerut. Mengingat-ingat pertanyaan keamanan email, memasukkan kata apa yang berkelebat dalam ingatan. Hasilnya, "jawaban anda salah". Kalaupun jawabannya benar, tetapi tetap saja tidak bisa masuk.

Masih belum menyerah, hinggap di perangkat satu lompat ke perangkat yang lain. Hasilnya, sama, masih belum bisa terbuka.

Mengirim pesan kepada rekan kerja sebelum saya mutasi di tempat yang sekarang, barangkali emailnya masih log in di komputer yang sering saya pakai. Ternyata bukan email saya yang sedang log in. Sebagai upaya ke sekian kalinya, mencoba dibuka di komputer tersebut, dan hasilnya sama, sebuah peringatan bahwa akun tersebut kemungkinan dipakai orang lain.

Saya bukan orang penting, tidak terlibat berbagai proyek yang menghasilkan banyak uang. Meretas email saya sepertinya tidak menguntungkan, atau mungkin ada pihak yang tidak sengaja meretas. Ah,...entahlah. Meski saya bukan orang penting, namun isi email tersebut ada beberapa hal yang sangat penting. Saya terus berharap semoga ada keajaiban.

Saya terus mengingat-ingat, apakah email tersebut pernah saya gunakan untuk hal yang tidak baik? Spertinya tidak. Email tersebut email resmi nama saya beserta almamater. Yahoo mungkin mempunyai sistem kemanan tersendiri, sehingga tidak mudah mengiyakan proses pengajuan bahwa akun tidak bisa diakses.

Baiklah, sampai di sini saya menyerah. Saya masih berharap dan percaya akun saya bisa dibuka kembali. Aamiin.

Monday, March 26, 2018

Hati

Monday, March 26, 2018 0 Comments

Menguap berkali-kali hingga mata berair. Ngantuk. Sepagi ini sudah dibuai kantuk yang luar biasa. Kopi. 

Maret hampir ending, sepekan lagi. Abai berhari-hari tak memenuhi komitmen. Sibuk? Ah,…tidak terlalu.

Hati manusia mudah sekali untuk terbolak – balik. Mudah pula untuk berganti suasana. Mudah pula untuk terpengaruh. Maka ketika bosan dan sejenisnya, bukan tempatnya yang salah tetapi hati kita yang salah, eh saya maksudnya.

Produktivitas seseorang bisa melonjak bisa menurun drastis bergantung pada faktor  yang mempengaruhinya. Jika di dalam sebuah hadist nabi dikatakan “di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila ia baik maka  dan apabila ia rusak maka rusaklah semuanya”, itu memang benar adanya. Jika suasana hati baik maka segala aktivitas menjadi lebih menyenangkan dan hasilnyapun memuaskan. Sebaliknya,jika suasana hati sedang kacau, maka aktivitaspun turut kacau dan hasilnya jauh dari kata memuaskan.

Realitas di atas membawa perenungan tersendiri. Tidak mungkin akan terus menuruti suasana hati, menuruti alur dan menikmati keterpurukan. Hari terus berganti dan kesempatan akan terus bergulir dan takkan kembali. Di sinilah kita harus berupaya kuat menjaga hati tetap baik-baik saja meski sedang tidak demikian. Bukankah, Rosulalloh telah mengajarkan untuk tidak menuruti amarah dan bersegera meleraikannya? Saya kira sama dengan mendamaikan hati, jika kondisinya memang sedang riuh ramai tidak jelas intonasinya, maka bersegera telusuri dan ajak untuk berhenti sejenak. Menepi lalu berlayar kembali.

Kita, saya maksudnya butuh jeda, butuh bernafas sejenak. Meluruhkan semuanya, lalu memulainya kembali dengan lapang. Hal-hal yang manusiawi tak bisa dipaksa untuk segalanya menjadi baik seketika. Butuh proses untuk menuju ke sana, maka lakukan selayaknya manusia, jangan yang lain.


Bojongsari, 260318 

Sunday, March 18, 2018

Trik Memulai Menulis

Sunday, March 18, 2018 0 Comments


Setiap anak dilahirkan dengan karakter khusus, berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, termasuk dalam urusan jam tidur. Putri saya mempunyai ritme tidur yang berbeda dengan bayi pada umumnya. Seringnya, dia akan benar-benar terlelap di atas jam sepuluh malam dan akan terbangun sekitar pukul empat dini hari, bermain sebentar lalu terlelap kembali setelah subuh berkumandang dan terbangun kembali ketika Bundanya siap-siap ngantor. Sudah mencoba dengan trik-trik yang betebaran di youtube dan google, namun belum berhasil atau mungkin saya yang kurang bersabar untuk mendisiplinkan jam tidur. Alhasil, baru bisa mulai menarikan jemari di atas jam sepuluh malam. Kalau mata sudah enggan untuk terjaga, maka sudah pasti tidak akan ada postingan hari itu.

Membuka kalimat itu gampang-gampang susah. Gampang kalau sudah mendapat ide dan tahu bagaimana harus memulai. Susah, jika ide tidak ada dan kebingungan hendak mulai darimana. Setiap penulis tentu punya trik masing-masing untuk memancing ide dan kalimat bisa terlontar dalam layar monitor. Seperti bayi, yang mempunyai kekhususan masing-masing dalam tumbuh dan berkembang.

Saya akan lebih mudah memulai menulis setelah membaca beberapa kalimat atau lengkap satu naskah pendek milik orang lain, baik itu berupa naskah fiksi atau non fiksi. Membaca mampu merangsang otak untuk mengeluarkan tabungan kata-kata.

Nah, kalau membaca ternyata belum mampu merangsang otak untuk menuliskan sesuatu, cara lain untuk merangsang ide muncul yaitu dengan membayangkan kejadian-kejadian yang dialami dan berkesan, baik itu kejadian sudah lama ataupun yang baru saja terjadi. Kalau belum bisa juga, bisa dengan nonton berita. Bisa jadi dalam perjalanan nonton berita ditemukan hikmah yang bisa dituliskan.

Kalau semua upaya tadi sudah dilakukan dan belum bisa menemukan sesuatu yang ingin dituliskan, maka carilah cara lain. Jalan-jalan termasuk trik jitu bagi sebagian orang untuk merangsang otak berpikir dan tercetus ide untuk menuliskannya. Selain itu bisa juga dengan membaca tulisan diri sendiri. Membaca tulisan sendiri baik yang sudah diterbitkan atau belum mempunyai manfaat ganda. Selain untuk merapikan beberapa kalimat yang mungkin salah ketik atau nada kalimatnya tidak logis, bisa memunculkan ide baru. Bisa mengembangkan dari ide yang sudah dituliskan atau ide baru yang lebih unik.

Kembali lagi, setiap orang punya cara yang berbeda dalam memulai menulis. Temukan sendiri, cara yang paling ampuh untuk mempermudah dalam mulai menulis.

Pesan layanan blog airhein.com adalah teruslah menulis dan jangan lupa membaca. Tebarkan manfaat melalui tulisan. :) :)

Ketenger, 180318 22:50



Saturday, March 17, 2018

Hari Ke-17

Saturday, March 17, 2018 0 Comments

Ini hari ke tujuh belas di bulan maret ini. Harusnya sudah lahir tujuh belas tulisan di blog bulan ini, semenjak dikukuhkannya sebuah komitmen untuk menjaga kewarasan dengan terus menulis. Minimal satu hari satu kali posting di blog. Lagi-lagi komitmen baik itu selalu menuai ujian. Dan akibatnya, jumlah tulisan yang di posting lebih sedikit dibanding yang seharusnya.

Setelah menikah dan punya anak tentu kehidupan akan berubah, dari berbagai sisi. Dengan demikian perlu adanya pembagian waktu yang tepat dan disiplin untuk menaatinya. Ini sulit. Apalagi kalau anak masih bayi, jam tidur dan aktivitasnya masih kacau. Ini jelas-jelas membutuhkan seni menata waktu yang jitu. Cerdas dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan.  Ini yang aku masih harus belajar lagi dan lagi.

Aktivitas menulis tidak serta merta berjalan begitu saja tanpa adanya faktor penunjang. Menggunakan kemampuan otak saja tidak cukup. Menulis membutuhkan penunjang sebagai nutrisi, agar tulisan yang dihasilkan menuai manfaat, logis, akurat, jujur. Salah satu sumber nutrisi yang paling berpengaruh adalah membaca. Setelah membaca maka gunakanlah kemampuan otak untuk menganalisis dan kemudian mengambil kesimpulan. Sehingga jika suatu ketika dihadapkan pada fakta-fakta yang dijadikan ide tulisan dan berkaitan dengan buku yang pernah dibaca, merangkai kalimat bukan lagi menjadi halangan.

Kehidupan pasca menikah seharusnya menjadi kehidupan untuk meningkatkan kualitas diri. Mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat sebelum menikah dan terus meningkatkan kemampuan diri dengan mencari ilmu. Misalnya,  membaca buku. Sayangnya, ini belum bisa sepenuhnya aku lakukan. Setidaknya, melalui komitmen ini menggugah kembali minat baca dan memancing otak untuk kembali bermain kata.