Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Monday, September 10, 2018

Bertahan atau Gugur?

Monday, September 10, 2018 0 Comments
source : detik.net


Ini hari ke tujuh dalam rangkaian permulaan one Day One Post (ODOP), harusnya sudah ada tujuh postingan yang nangkring di blog. Namun, kejadiannya tidak seperti yang ditargetkan atau diharapkan. Baru ada tiga postingan, separuh saja belum. Ini ancaman, karena aturan yang telah ditetapkan tidak terpenuhi. Besok adalah hari penentuan, apakah masih bisa bertahan atau tidak.

Alasan paling kuat kembali ikut bergabung dalam komunitas adalah menghidupkan blog ini. Komunitas ODOP sudah memberikan fasilitas sedemikian rupa, mulai dari pemberian materi hinga memberikan tips dan trik bagaimana untuk survive di dunia menulis. Para Admin dan teman-teman yang lain juga sudah memberikan semangat yang luar biasa agar bisa menulis setiap hari. Tidak hanya sekedar menulis tanpa makna, sekalipun itu tulisan yang berisi curhat, upayakan tulisan yang diposting bisa memberikan hikmah, pengetahuan atau inspirasi bagi pembaca. Dan ternyata, komitmen menulis setiap hari sepenuhnya ditentukan oleh diri sendiri. Seberapa kuat upaya yang dilakukan untuk tetap komitmen menulis meski kesibukan merampas hari itu.

Saya, tidak akan menyalahkan siapapun ketika memang takdirnya tidak bisa bertahan kembali di komunitas ini. Saya memang harus memaksa diri lebih keras lagi untuk terus mengisi otak dengan nutrisi yang cukup dan melatih otak berfikir lebih variatif. Termasuk dalam menulis. Saya harus menemukan formula yang tepat, cara yang paling efektif. Saat ini belum, tetapi saya yakin esok pasti bisa, asal dilakukan.

Detik jam, terus berlalu. Sudah pukul 00.00 lebih, artinya batas untuk satu pekan sudah terlewat. Saya akan tetap menulis dan memposting tulisan ini. Ini bagian dari upaya, jika pada akhirnya saya keluar insyaAlloh akan memberikan pelajaran tersendiri.
Hari ini, saya pulang ke rumah Ibu dan anak saya baru bisa tertidur lelap saat jarum jam berada pada angka 23. 45. Menulis 300 kata dalam waktu lima belas menit? Sebenarnya bisa kalau sudah terbiasa dan apa yang ingin ditulis sudah mengalir deras. Namun jika masih membutuhkan waktu untuk berfikir waktu lima belas menit tidak akan cukup. Dan ini terbukti. 

Apapun yang akan terjadi, sudah menjadi resiko dan harus dihadapi. Ketika menulis menjadikan hati dan pikiran lebih segar, harusnya aku tidak akan berhenti melakukannya. Ketika membaca menjadikan hati dan pikiran lebih arif dan solutif, harusnya aku akan tetap menjadikannya cemilan atau bahkan makanan pokok. Ketika memang saya harus gugur bahkan di awal, harusnya tidak akan menjadikan blog ini kembali berdebu.



Monday, September 3, 2018

Dalamnya Laut dapat Diduga, Dalamnya Hati Siapa Tahu

Monday, September 03, 2018 4 Comments
doc.pribadi


“Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu.”

Sebaris kalimat peribahasa yang dulu pernah akrab di telinga, ketika otak ini belum penuh dengan rangkaian peristiwa, ketika seratus rupiah masih bisa untuk membeli aneka permen, ketika harga bakso masih bisa dijangkau dengan harga lima ratus rupiah. Dulu, sebatas hafal, baik kalimat maupun makna yang dimaksud. Fasenya memang dulu demikian, sebatas tahu saja, berpikirnya belum sampai pada makna kehidupan. Sekarang, kalimat itu tidak hanya peribahasa, akan tetapi memang kenyataannya demikian. Tak ada yang bisa menakar dalamnya hati, kecuali dirinya dan Sang Pencipta.

Hati. Dalamnya tak ada yang tahu, warnanya tak terlihat, gejolaknya tak teraba. Dalam-dangkal, keras-lembut, pekat-putih, semua terlihat samar. Namun, segalanya bersumber dari sana. Raga ini mengikuti bisik hati yang kemudian diolah oleh otak, terkadang keduanya berseberangan, terkadang searah, dan tentu saja bergantung pada kemampuan diri melatihnya. Memang benar semuanya Alloh yang mengatur. Dialah yang membolak-balikkan hati manusia. Namun, manusia juga turut andil dalam mewarnainya. Tersebab nafsu yang melekat di dalam diri manusia.

Yang terlihat, terucap, belum tentu sama dengan yang dirasa, disimpan dan diangankan. Begitu anggunnya hati menyembunyikan yang busuk, buruk, menyakitkan, dendam, iri, tulus, penyayang, pemaaf, penolong dan sejumlah sifat lainnya. Sinyal hati hanya bisa ditangkap oleh antena hati. Keburukan atapun kebaikan akan tetap bisa terasakan seiring dengan bertambahnya kadar masing-masing. Keduanya akan meniti jalannya sampai ujung cerita yang endingnya Alloh takdirkan.

Oleh sebab yang ada di dalam hati tak terlihat, kita bisa memilih sikap apapun yang diinginkan. Baik dan buruk segalanya adalah ujian dan pilihan. Kemudian, takdir hadir atas pilihan dan upaya manusia. Alloh memberikan larangan, perintah dan juga anjuran berikut akibat dari setiap pilihan yang diambil. Tidak ada paksaan dalam menentukan pilihan.

Alloh anugerahkan akal kepada manusia untuk berpikir, menimbang baik dan buruk, membawa manfaat atau sebaliknya. Alloh sediakan dua jalan di dunia, baik dan buruk. Manusia sendiri yang akan memilih. Masing-masing dari pilihan akan membawa takdir yang berbeda, kisah yang berbeda dan rasa yang berbeda.






Thursday, August 23, 2018

Babak Terhebat dalam Hidupku

Thursday, August 23, 2018 2 Comments



Barisan waktu yang telah lalu bersama segala episodenya akan menjelma menjadi masa lalu dan kenangan. Manis dan pahit, keduanya berpeluang menghuni hati, mengisi memori. Lembaran-lembaran kenangan akan menempati porsi yang berbeda-beda, ada yang terlalu manis, ada juga yang terlalu pahit. Ada yang biasa saja hingga tak berbekas ada yang begitu dalam hingga enggan untuk terlupakan. Begitulah garisnya, sebab hidup seperti buku cerita. Ada prolog, klimak dan epilog.

Tiga puluh tahun, bilangan usia yang kini aku genggam. Ada banyak kisah yang kemudian menjadi kenangan. Manis, pahit, hambar, asam dan lainnya pernah aku kecap. Terkadang, ketika lintasan kenangan kembali menghampiri, rasa syukur itu kemudian membuncah. Alloh Maha Baik. Dari sekian lembar kenangan yang sudah kuabadikan, tentu  ada yang membekas terlalu dalam hingga mendatangkan hikmah yang tak kalah hebatnya. Menjadi Ibu, adalah bagian dari sejarah hidup yang paling menguras emosi. Bahagia, terharu, sakit, meluruhkan ego, berkorban dan lain sebagainya.
Lagu “Kasih Ibu” ciptaan SM Mochtar memang demikian adanya. Kasih Ibu kepada anaknya tak terhingga dan tentu saja tanpa pamrih. Aku baru merasakan ini, saat melahirkan. Di antara rasa sakit yang begitu hebat saat kontraksi, rasa dosa dan bersalah kepada Ibu terus bermunculan. Ternyata melahirkan itu sakit dengan rasa sakit yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Betapa, aku sudah melukai perasaan orang yang rela melakukan apapun demi anaknya. Ini baru melahirkan.  

Babak selanjutnya yang tak kalah hebat adalah menjalani awal-awal sebagai Ibu. Jam tidur berantakan, badan lelah, emosi susah terkontrol namun dituntut untuk slow dan itu sesuatu banget. Ini hanya bisa dirasakan ketika menjadi Ibu (semoga yang belum merasakan dikasih rejeki untuk merasakan ini). Semakin dalam rasa bersalah sama Ibuku, menyesal karena belum banyak yang dilakukan untuk membahagiakannya, memenuhi keinginannya. Dan sekarang, prioritas tentu akan beralih kepada anak (semoga Alloh memberikan keberkahan kepada Bapak dan Ibu). Tak pernah terbayangkan jika episodenya benar-benar berubah dari sendiri – menjadi istri – menjadi istri sekaligus Ibu dan bekerja. Perubahan yang ternyata belum aku siapkan, awal-awal jelas merasa shock dan lelah. Akan tetapi seiring waktu berlalu, perlahan mulai berdamai meski hal-hal yang dulu ketika bisa dilakukan dengan mudah kini harus penuh perjuangan, membaca dan menulis misalnya. Namun, tetap harus bersyukur atas episode ini.

Akan ada babak selanjutnya yang bisa jadi akan lebih dalam meninggalkan kenangan seiring dengan bertambahnya bilangan usia dan tanggung jawab. Suatu ketika, setelah jauh melangkah dan menengok kembali berbagai perjuangan yang telah dilakukan akan meninggalkan simpul senyum dan buncah bahagia. Lalu porsi sukur dalam hati atas segala nikmat yang sudah Alloh kasih akan terus meningkat.

Tulisan ini bukan hanya sekedar untuk syarat pendaftaran Komunitas ODOP (One Day One Post) yang dulu aku pernah ada di dalamnya, namun juga sebagai pengingat bahwa menjadi Ibu adalah kenangan yang paling hebat menghuni hati dan memori. Aku masih harus terus berjuang meningkatkan kualitas diri untuk mendampingi tumbuh kembang anakku. Jika ingin anakku baik, maka aku harus menjadi baik yang bukan hanya sekedar pencitraan.


#DAFTARODOP6

Bojongsari, 23 Agustus 2018




Wednesday, March 28, 2018

Tetaplah Waras

Wednesday, March 28, 2018 0 Comments

Seandainya islam tidak mengatur tentang adab barangkali medsos (media sosial) ini isinya adalah lomba hujatan, sumpah serapah, dan keluh kesah. Seandainya Alloh tidak memberi rasa malu, pastilah sudah berbuat semau sendiri. Bisa dibayangkan betapa hancurnya dunia ini.

Beberapa hari ini, saat emosi naik turun, pikiran tidak baik berkelebat, ada dorongan untuk menulis status di medsos yang unfaedah. Alhamdulillah otak saya masih ada prosesor baiknya dan Alloh masih berbaik hati menahan. Akhirnya, dorongan itu dapat terhenti. Hingga munculah pengandaian semacam itu.

Manusia itu gampang banget untuk mengeluh, menyalahkan orang lain, marah-marah tidak jelas sampai yang jelas-jelas marah, memfitnah dan lain sebagainya. Kecenderungan seperti itu bisa muncul kapan saja. Nah, di sinilah kewarasan berpikir itu menjadi penangkalnya.

Di era yang serba sosmed ini, mulai dari kampanye hingga jualan, dibutuhkan kewarasan pikir tingkat tinggi sebelum rumah sakit jiwa penuh, sementara pemerintah belum mengganggarkan pembangunan rumah sakit jiwa. Ketika bermedia sosial, maka secara tidak sadar otak kita sedang di uji kewarasannya.

Apakah kita akan biasa saja ketika melihat status orang yang nyinyir? atau justru malah tersindir dan kemudian nyinyir? Apakah kita akan tetap kuat dengan godaan dagangan olshop yang berseliweran di beranda sosmed? Apakah emosi kita akan tetap stabil ketika melihat partai politik yang kita dukung kalah telak? dan masih banyak lagi pertanyaan sadis yang bisa mengancam kejiwaan kita.

Manusia itu beragam sifatnya. Jadi jangan heran kalau ada manusia yang kerjaannya kepo sama kehidupan orang lain, nyinyir sama sukses dan gagalnya orang lain. Ini wajar banget. So, sebelum terjun ke dunia per-medsosan, bekali diri dengan imunitas yang kuat dan do'a yang hebat, agar kita dipertemukan dengan status yang membawa perubahan lebih baik. Pun jika bertemu atau menjumpai status unfaedah, tetaplah santai.

Back to our self. Jika emosi sedang melakukan perjalanan di jalan yang bergelombang, maka luahkan dalam bentuk yang baik. Sama-sama bisa mengurangi benturan kok! Kalau sumpah serapah justru bisa berambigu dan prasangka, kalau menulis positif bisa memberikan inspirasi orang lain untuk lebih baik.

Selamat menulis dan tetaplah waras.


Bojongsari, 14 : 14 280318



Monday, March 26, 2018

Hati

Monday, March 26, 2018 0 Comments

Menguap berkali-kali hingga mata berair. Ngantuk. Sepagi ini sudah dibuai kantuk yang luar biasa. Kopi. 

Maret hampir ending, sepekan lagi. Abai berhari-hari tak memenuhi komitmen. Sibuk? Ah,…tidak terlalu.

Hati manusia mudah sekali untuk terbolak – balik. Mudah pula untuk berganti suasana. Mudah pula untuk terpengaruh. Maka ketika bosan dan sejenisnya, bukan tempatnya yang salah tetapi hati kita yang salah, eh saya maksudnya.

Produktivitas seseorang bisa melonjak bisa menurun drastis bergantung pada faktor  yang mempengaruhinya. Jika di dalam sebuah hadist nabi dikatakan “di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila ia baik maka  dan apabila ia rusak maka rusaklah semuanya”, itu memang benar adanya. Jika suasana hati baik maka segala aktivitas menjadi lebih menyenangkan dan hasilnyapun memuaskan. Sebaliknya,jika suasana hati sedang kacau, maka aktivitaspun turut kacau dan hasilnya jauh dari kata memuaskan.

Realitas di atas membawa perenungan tersendiri. Tidak mungkin akan terus menuruti suasana hati, menuruti alur dan menikmati keterpurukan. Hari terus berganti dan kesempatan akan terus bergulir dan takkan kembali. Di sinilah kita harus berupaya kuat menjaga hati tetap baik-baik saja meski sedang tidak demikian. Bukankah, Rosulalloh telah mengajarkan untuk tidak menuruti amarah dan bersegera meleraikannya? Saya kira sama dengan mendamaikan hati, jika kondisinya memang sedang riuh ramai tidak jelas intonasinya, maka bersegera telusuri dan ajak untuk berhenti sejenak. Menepi lalu berlayar kembali.

Kita, saya maksudnya butuh jeda, butuh bernafas sejenak. Meluruhkan semuanya, lalu memulainya kembali dengan lapang. Hal-hal yang manusiawi tak bisa dipaksa untuk segalanya menjadi baik seketika. Butuh proses untuk menuju ke sana, maka lakukan selayaknya manusia, jangan yang lain.


Bojongsari, 260318 

Saturday, March 17, 2018

Hari Ke-17

Saturday, March 17, 2018 0 Comments

Ini hari ke tujuh belas di bulan maret ini. Harusnya sudah lahir tujuh belas tulisan di blog bulan ini, semenjak dikukuhkannya sebuah komitmen untuk menjaga kewarasan dengan terus menulis. Minimal satu hari satu kali posting di blog. Lagi-lagi komitmen baik itu selalu menuai ujian. Dan akibatnya, jumlah tulisan yang di posting lebih sedikit dibanding yang seharusnya.

Setelah menikah dan punya anak tentu kehidupan akan berubah, dari berbagai sisi. Dengan demikian perlu adanya pembagian waktu yang tepat dan disiplin untuk menaatinya. Ini sulit. Apalagi kalau anak masih bayi, jam tidur dan aktivitasnya masih kacau. Ini jelas-jelas membutuhkan seni menata waktu yang jitu. Cerdas dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan.  Ini yang aku masih harus belajar lagi dan lagi.

Aktivitas menulis tidak serta merta berjalan begitu saja tanpa adanya faktor penunjang. Menggunakan kemampuan otak saja tidak cukup. Menulis membutuhkan penunjang sebagai nutrisi, agar tulisan yang dihasilkan menuai manfaat, logis, akurat, jujur. Salah satu sumber nutrisi yang paling berpengaruh adalah membaca. Setelah membaca maka gunakanlah kemampuan otak untuk menganalisis dan kemudian mengambil kesimpulan. Sehingga jika suatu ketika dihadapkan pada fakta-fakta yang dijadikan ide tulisan dan berkaitan dengan buku yang pernah dibaca, merangkai kalimat bukan lagi menjadi halangan.

Kehidupan pasca menikah seharusnya menjadi kehidupan untuk meningkatkan kualitas diri. Mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat sebelum menikah dan terus meningkatkan kemampuan diri dengan mencari ilmu. Misalnya,  membaca buku. Sayangnya, ini belum bisa sepenuhnya aku lakukan. Setidaknya, melalui komitmen ini menggugah kembali minat baca dan memancing otak untuk kembali bermain kata.


Saturday, March 10, 2018

Stop Baper!

Saturday, March 10, 2018 0 Comments


"Balqis sudah bisa apa sekarang?" tanya A kepada sahabatnya, B.

"Dia makin pinter, sudah mulai menyebut papa, mama dan geraknya aktif luar biasa," jawab B dengan bangga. "Bagaimana denga Adinda?"

"Sudah latihan jalan, sama niruin gaya Ayahnya kalau diajak main."

Dialog di atas hanya sebuah ilustrasi, bukan kejadian sebenarnya. Seorang ibu baru biasanya akan dihadapkan pada berbagai pertanyaan yang terkadang merusak mood bahkan merusak beningnya hati. Seorang ibu baru hatinya lebih rentan terserang virus baper dibanding perempuan yabg sudah punya anak leboh dari satu. Apalagi pertanyaan yang menyudutkan dan bernada membandingkan. Wah siap-siap tisu.

Setiap anak terlahir dengan berbagai kelebihan sekaligus kekurangan. Sebagai orang tua berkewajiban untuk mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki dan tidak menonjolkan kekurangan. Tumbuh kembang setiap anak jelas berbeda, tidak sama dan tidak terpaku pada bilangan waktu yang tetap. Sehingga di dalam milestone tumbuh kembang anak dibuat rentang waktu. Nah di sinilah terkadang timbul berbagai perasaan cemas, khawatir dan paranoid. Anaknya si A kok sudah bisa begini, anaknya si B sudah bisa begitu, sedang anakku kok baru seperti ini. Stop! Pikiran semacam itu harus dienyahkan.

Setiap anak membutuhkan orang tua terutama ibu yang bahagia dalam membersamainya. Bahagia erat kaitannya dengan ketenangan hati dan pikiran. Pikiran yang positif akan melahirkan ketenangan hati, dan bahagia akan betah berlama-lama. Anak tidak membutuhkan ibu yang baperan. Setiap anak membutuhkan ibu yang ceria, kreatif, inovatif dan cerewet (nyanyi, mendongeng, mengajak bicara).

Wahai para ibu baru, kendalikan dirimu dan tetaplah pada rel yang tepat. Ingat, anak kita membutuhkan diri kita selalu dalam keadaan prima. Mereka membutuhkan senyum lebar dan nada ceria dalam suara maupun ekspresi kita. Mereka tidak peduli selelah apa ibunya, seberat apa masalah yang sedang ditanggung ibunya atau sepahit apa cerita kehidupan yang sedang dialami. Bagi mereka ibu adalah bantal dalam segala rasa anak-anak.

Bersyukurlah dikasih kesempatan menjadi ibu.  Tidak sedikit yang sedang menanti buah hati bahkan bertahun-tahun. So, kita yang sudah dikasih harus beramanah. Jadilah pelaksana amanah sekuat dan.sesempurna yang bisa dilalukan. Sebab waktu dan kesempatan tak pernah terulang.  Tetap kaga kewarasan dan jangan lupa minum kopi. 

Ketenger,  10032018 22:07

Tuesday, March 6, 2018

Sejenak

Tuesday, March 06, 2018 0 Comments

Petir menggelegar bersahut-sahutan beradu dengan riuh hujan menyapa bumi. Kilat menyambar-nyambar memecah gelap.

Bencana alam datang silih berganti akhir-akhir ini. Yang terkadang tidak masuk dalam perhitungan ilmiah. Apakah alam sudah mulai marah? akibat perilaku manusia yang semau sendiri atau bumi sudah mulai menua hingga satu persatu bagiannya mulai berguguran atau Alloh ingin memberi peringatan?  atau ketiga-tiganya?  Hanya Alloh pemilik alam semesta yang Maha Tahu.

Terbersit, tentang diri yang masih jauh dari kata siap untuk beranjak jika sewaktu-waktu Alloh berkehendak memanggil. Belum cukup bekal. Bahkan rasanya kualitas keimanan ini tidak semakin membaik. Lalu,  di manakah kelak Alloh akan menempatkan diri ini?
Sebagian ulama memprediksikan kiamat sudah dekat. Ini bukan lantaran ada film dengan judul yang sama, tetapi fenomena tanda-tanda kiamat sudah banyak bermunculan. Membayangkan bagaimana, ah tidak sampai. Hanya Alloh yang tahu kapan waktunya.

Masih ada waktu masih ada kesempatan. Terus memperbaiki diri, memperbaharuhi niat dan meluruskan jalan. Teringat tulisan Tante Titania tentang bagaimana Alloh akan membantu hambanya yang jujur ingin memperbaiki diri. Kemudian membandingkan dengan diri ini, barangkali benar terkadang keinginan untuk memperbaiki diri hanya sebatas pada lisan hingga kondisi diri ini masih sama. Belum beranjak kemana-mana.

Hujan masih belum reda. Petir masih datang sesekali. Listrik masih berada pada zona off yang berimbas pada tertundanya pekerjaan. Sejenak menengok pada alpa yang sudah terlalu menumpuk. Menerawang bagaimana cara memulai memperbaiki yang berlubang. Bukan hanya sebatas angan dan lisan, tetapi dimulai dari hati kemudian dilanjutkan pada perilaku. Ah,... Alloh memang selalu punya cara untuk mengingatkan hambaNYA yang mulai lupa jalan pulang.

Bojongsari, 06032018 15.30

Monday, September 4, 2017

Apa yang Kamu Kerjakan?

Monday, September 04, 2017 0 Comments



“Apa yang kalian lakukan hari ini akan berimbas pada kehidupan kalian lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Maka lakukanlah hal-hal yang baik, yang bermanfaat, yang bisa membawa pada mimpi kalian.” 

Kalimat itu pernah meluncur di hadapan anak-anakku. Kala itu, ketika duniaku masih tentang mengajar. Menekankan berulang kali, agar mereka yakin bahwa kebaikan dan prestasi yang mereka ukir saat itu tidak akan sia-sia bahkan akan berpengaruh terhadap kehidupan yang akan datang.

Belum lama ini, nasihat itu tiba-tiba melintas di beranda akun sosmed. Deg. Apa yang aku lakukan dalam lima tahun atau sepuluh tahun terakhir ini? Adakah sesuatu yang fokus aku kerjakan? Sesuatu yang susah payah aku upayakan? Kosong. Rasa-rasanya tidak ada. Aku mengalir begitu saja. Mengikuti arus  yang membawaku. Memang, sebelumnya ada yang fokus dan terus aku upayakan, namun ketika kenyataan berbicara lain, aku lepas begitu saja. Aku tinggalkan, abaikan dan akhirnya seperti ini. Seakan-akan masih berdiam diri. Tak kemana-mana. Tak ada hasil.

Mimpi itu membutuhkan perjuangan dan upaya maksimal. Mimpi tidak akan terwujud begitu saja. Memang, ada yang jalannya mudah, ada yang berliku, berbelok, memutar hingga akhirnya bertemu dalam nyata. Ada yang teguh menggenggamnya dan terus berupaya mewujudkannya, ada yang menyerah begitu saja. Padahal bisa jadi, hanya membutuhkan usaha satu langkah lagi. Sudah menjadi tabiat manusia, ada yang sabar, ada pula yang sebaliknya.

Terkadang atau seringnya penyesalan datang belakangan seperti polisi dalam dalam drama. Waktu tak pernah mau menunggu, apalagi kesempatan. Dunia semakin berkembang bahkan melebihi batas angan-angan. Persaingan semakin hebat lagi. Seleksi alam benar-benar berlaku.  Pertanyaannya, siapkah kita untuk menghadapinya? Sanggupkah kita untuk terus meningkatkan kapasitas diri?

Back to our self! Segalanya kembali kepada diri kita masing-masing. Mau bergerak atau diam. Mau terus bersaing atau mundur. Hasil tidak akan mengkhianati usaha, demikian kata orang-orang. Kewajiban kita adalah berusaha sebagaimana yang tertulis dalam kitabNYA, bahwa Alloh tidak akan merubah suatu kaum kecuali mereka merubahnya sendiri. Setelah usaha maksimal, selanjutnya adalah menyepuh keyakinan sebab Alloh akan mengabulkan apa yang menjadi prasangka hambaNYA.

Kita tentu pernah membaca ataupun mendengar berbagai kisah kesuksesan seseorang. Muaranya adalah butuh waktu yang tidak sebentar, butuh perjuangan yang tidak sederhana untuk sampai pada tingkatan sukses. Para ilmuan, mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan sebuah teori. Para pedagang, teknolog, penulis dan segenap profesi lainnya, mereka mengalami jatuh bangun untuk sampai pada kata berhasil. Yang gagal dan akhirnya menyerah tentu tidak sedikit. Jadi, mau milih yang mana?


Purwokerto, 4 September 2017



Friday, July 28, 2017

Andai Dunia Anak-anak Tak Berakhir

Friday, July 28, 2017 0 Comments
doc.pribadi


Dunia anak kecil barangkali adalah dunia yang paling indah. Tanpa beban dan bebas berekspresi. Mereka tidak akan berpikir akibatnya bakal begini begitu. Sayangnya, dunia ini tidak abadi. Tumbuh, berkembang dan berganti adalah keniscayaan. Tidak bisa dihindari, tersebab kehidupan adalah siklus dan perjalanan.

Kemarin sore, pulang kerja, aku menyengaja langsung duduk di tempat ibu mertua, di sana ada keponakan dari pihak suami dengan usia empat tahun. Karakter yang dimilikinya memang unik, cenderung pemalu dan hanya akan akrab dengan orang-orang yang telah dikenalnya dan dia merasa aman serta nyaman. Mood hatinya sepertinya sedang baik sore kemarin, dimulai dari bercanda hingga bercakap-cakap yang agak serius. Aku pancing agar ia mau bercerita tentang sekolahnya yang baru berjalan satu minggu. Tak banyak yang ia ceritakan. Barangkali, sekolah belum menjadi aktivitas yang menyenangkan buatnya.  Ia akan senang berceloteh ketika ditanya hal-hal yang membuatnya suka dan berimajinasi. Tentang masa remaja dan dewasa yang ia dambakan, tentang keinginannya pergi ke tempat-tempat tertentu, tentang makanan dan mainan yang ia suka dan tentang hello kitty. Dia penyuka segala hal yang berkaitan dengan hello kitty. Bermain dengan anak-anak memang menyenangkan. Dunianya adalah dunia tanpa batas.

Ada hal yang menarik dari serangkaian sore kemarin. Oia, keponakanku tadi adalah pengamat yang jeli. Dia akan mengomentari hal-hal yang membuatnya bertanya dan menurutnya itu tidak tepat, seperti percakapan di bawah ini.

”Kok di sini putih, di situ ngga?”  tiba-tiba dia bertanya kepadaku setelah mengamati wallpaper HP yang aku pegang.

“Karena yang di situ (wallpaper HP) pakai bedaknya tebal,” jawabku. Foto yang tak pasang di HP adalah foto saat walimah, sehingga memang terlihat beda dengan keseharianku.

“Ooo,..jadi ini pakai bedak terus putih? Kenapa sekarang ngga pakai bedak, ngga pakai lipstick? Kan jadinya putih cantik kalau pakai bedak sama lipstick,”  komentarnya meluncur dengan ringannya. Ini khas anak kecil, dia ngga bakal mikir apakah aku tersinggung, marah dan sejenisnya. Coba kalau sudah dewasa, mana mungkin akan keluar komentar seperti itu.

“Karena Tante ngga suka dandan seperti itu,” jawabku kemudian. 

“Kenapa pakai jilbabnya seperti itu? Ngga pakai yang jarum-jarum itu lho,”  lanjutnya. Maksudnya, kenapa aku pakai jilbabnya tidak seperti para perempuan kekinian yang pakai jilbabnya dengan berbagai model, dia tidak bisa bertanya dengan kalimat yang detail.

“Kan kerja, kalau ke  kondangan baru pake jilbab yang gitu,” jawabku. Ini bukan jawaban yang tepat sebenarnya. Baru kerasa setelah kalimat itu selesai. Setiap jawaban yang aku berikan harusnya memberikan pemahaman bukan pengalihan atau justru membentuk persepsi baru. Makanya jangan heran kalau dia juga berkomentar tidak jauh dari jawabanku dan tetap kekeh dengan pendapatnya. Bahwa cantik itu harus, di rumah atau pergi dan terutama kalau pergi. Cantik itu pakai bedak dan lipstick. Cantik itu putih.  Dia melihat, mengamati, berpikir jadilah pertanyaan, jawaban, sanggahan dan komentar.

Seharusnya aku bisa menjelaskan bagaimana menjadi perempuan yang sesuai dengan syariat. Ya, meskipun aku masih harus terus memperdalam pengetahuanku dan mengaplikasikannya dengan benar dalam keseharianku. Aku harus hati-hati menyampaikan dan menjawab. Jangan sampai jawaban-jawabanku justru menyinggung perasaan ibunya atau ibu mertuaku. Nah, jelas banget kan bedanya anak kecil sama orang dewasa.

Mereka anak-anak bisa jujur menyampaikan dan bahkan menasehati. Sedang orang-orang dewasa berat banget jika harus menyampaikan kejujuran apalagi terkait dengan penampilan, sifat dan sikap seseorang. Sebagian dari kita memilih untuk bergunjing membicarakan kejelekannya di belakang daripada menyampaikan dengan cara yang baik. 

Anak-anak bisa dengan mudah memaafkan. Setelah hebat bertengkar hingga babak belur berkelahi, tidak butuh waktu berjam-jam untuk membuat keduanya akur kembali, bermain kembali. Tanpa dendam, tanpa rekayasa. Ah,...terkadang jadi berandai. Seandainya, dunia anak-anak tidak berakhir, atau andai jiwa kita selapang jiwa anak-anak. Tentu akan sedikit sekali perpecahan yang tidak penting.


Bojongsari, 280717


Friday, May 5, 2017

Hujan, Rejeki dan Keimanan

Friday, May 05, 2017 0 Comments


Hujan adalah berkah sebagaimana dituliskan dalam al qur'an bahwa "...Dan kami turunkan air hujan dari langit untuk menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan...." namun bisa menjadi berbalik menjadi hujan adalah musibah. Akhir bulan April lalu hujan telah mengakibatkan hadirnya banjir bandang dan menelan korban. Kematian tentu bukan berkah bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan, apalagi dengan jalan yang memilukan. Namun, bisa menjadi berkah untuk diambil hikmah bahwa kematian bisa melanda siapa saja, dengan jalan apa saja, tanpa tanda, apalagi kompromi. Ini adalah hak Alloh penentu segala takdir.  

Hujan terkadang menjadi romantis, membahagiakan, mengharukan dan sesekali memilukan. Hujan adalah ketidakpastian sebagaimana rejeki. Bagaimana mungkin? Bukankah semua itu sudah jelas, katanya Alloh telah menjamin rejeki bagi setiap umat? Lalu kenapa rejeki masih berwujud ketidakpastian? Kenapa sama seperti hujan? Bukankah hujan pasti akan turun pada musimnya?

Pernahkah menyaksikan langit begitu kelam, mendung menggantung tinggal turun kemudian menjadi titik yang akan menderas setelah sekian detik namun setelah sekian detik dan berganti menit bahkan jam, dan hujan masih belum hadir? Atau langit cerah, angin semilir dengan merdunya, cahaya matahari masih memenuhi bumi, namun tetiba hujan datang menghantam? Tentu kita semua pernah mengalami. Atau pernahkah ketika dalam perjalanan, kemudian di daerah A menemui hujan begitu deras namun di daerah sebelahnya hujan tidak menyentuh sama sekali? Tentu saja sering, bukan? 

Sahabat, lihatlah kondisi saat ini, apakah hujan selalu hanya datang jika musimnya tiba? Kita tak perlu menjawab, tahun-tahun terakhir ini hujan datang semaunya tak peduli musim apalagi iklim. Hujan menjadi tidak pasti oleh sebab bumi sudah tidak lagi sehat. Alloh hanya memberikan akibat atas berbagai sebab yang diperbuat oleh manusia. Hujan yang telah ditakdirkan menjadi berkah kemudian menjadi berbalik memilukan. Hujan adalah ketidakpastian ia akan menjadi berkah atau musibah, namun hujan adalah kepastian atas kehendakNYA. 

Rejeki sebagai mana hujan. Ia adalah ketidakpastian dan kepastian atas kehendakNYA. Rejeki tak selalu dalam bentuk nominal uang atau benda, rejeki juga rasa. Ia jelas berwujud ketidakpastian, entah kapan datang, seberapa deras dan seberapa sering ini menjadi hak Alloh dalam menentukannya. Rejeki memang tak mengenal musim sebagaimana hujan namun rejeki mengenal usaha, proses dan do'a. Ketiganya akan menjadi pewarna, kuas dan media dalam mewujudkan lukisan rejeki. Kalau seandainya rejeki itu pasti jumlahnya dan datangnya, maka apakah pasti manusia akan bekerja keras mengupayakan untuk menjemput rejeki? Saya yakin belum tentu bahkan sebagian besar tidak akan. Sehingga rejeki akan berkorelasi dengan usaha, proses dan do'a.

Hujan dan rejeki adalah ketidakpastian dan merupakan kepastian dariNYA maka keyakinan atas segala takdir baik adalah menjadi kunci yang paling kuat. Keyakinan berwujud tersebab keimanan di dalam dadanya teah kokoh. Keimanan menjadi pondasi yang tidak dapat digantikan dengan hal lain. Keimananlah yang akan terus menjadikan manusia berusaha menjaga bumi, berbuat baik dan menjemput rejeki dengan cara yang baik pula. Keimanan pula yang akan menjadikan hati tak marah jika kemudian hujan berubah menjadi musibah. Keimanan pula yang akan menjadikan manusia tetap ikhlas jika rejeki yang diharapkan ternyata harus melayang lepas. Yakin bahwa semua adalah kepastian dari yang Maha Kuasa.


Bojongsari, 05052017



Monday, October 24, 2016

Soal Janji

Monday, October 24, 2016 0 Comments

Terkadang kita tahu tapi tak mau tahu. Terkadang kita mengerti tapi tak memahami dan terkadang kita berjanji tetapi mengingkari. Memang lidah tidak bertulang, mudah untuk berbelok dan kemudian berbalik. Semau hati, semau sendiri. Kita tentu sudah akrab dengan kalimat bahwa kepribadian seseorang bisa dilihat bagaimana ia setia pada ucapannya, pada janji yang telah dilahirkannya serta komitmen untuk mewujudkannya.

Setiap kita bisa jadi pernah mengingkari janjinya, atau pernah dikecewakan atas sesuatu yang dijanjikan kepada kita. Keduanya akan melahirkan akibat. Bisa saja menumbuhkan keegoisan dan mengembangkan kemunafikan. Bisa saja  menumbuhkan kedewasaan dan mengembangkan kesabaran. Semua bergantung pada seberapa kuat hati menerima, seberapa ingin hati menyadari kesalahannya.

Soal ingkar janji adalah soal memaafkan dan kepercayaan. Memaafkan adalah kewajiban sebab khilaf dan salah adalah bagian dari manusia itu sendiri, tetapi percaya adalah soal sejarah. Boleh sepakat boleh tidak. Kepercayaan bergantung dari seberapa baik sejarah yang telah terangkum. Seberapa banyak ingkar yang telah dibuatnya. 

Kenyataan memang tak selalu sama dengan harap apalagi ingin yang sering menghampiri. Ada banyak kemungkinan diantara episode yang telah diskenariokan, sebab Tuhan punya hak penuh atas segala episode setiap manusia. Namun, seberapa besar usaha yang diupayakan itulah hakikatnya. Bukankah hasil tak pernah mengkhiati usaha? Dan hasil bukan hanya yang tampak, tetapi kadang bersifat abstrak dan bisa jadi baru bertahun-tahun kemudian dirasakan.

Kalau hari ini kecewa oleh sebab janji yang teringkari. Maafkanlah dengan sebaik-baik maaf, terimalah dengan sebaik-baik penerimaan. Sebab, dengan demikian kita belajar untuk tidak berbuat yang sama. Kita belajar untuk menahan diri dari amarah, belajar untuk sabar dan menambah keyakinan bahwa Alloh lah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. 

Meja makan, 241016

Sunday, July 31, 2016

Sebab Masing-Masing Memang Berbeda

Sunday, July 31, 2016 0 Comments
Sumber gambar : http://www.ummi-online.com/
Hati terkadang riuh bernyanyi menakar kehidupan orang lain, lalu membandingkan dengan kehidupan sendiri. Ada yang menyayat, luka. Senjata itu bernama iri. Semakin riuh, semakin parah sayatan yang terbentuk. Sakit. Lalu, hilanglah segala kesyukuran yang seharusnya mendiami.

Setiap manusia punya episodenya masing-masing, jalan cerita yang berbeda, dan tak bisa disamakan. Tentu bukan tanpa maksud Alloh membuatnya demikian. Ada pembelajaran di dalamnya. Bersyukur dan belajar. Bersyukur, jika kita berjumpa pada kisah yang tragis. Belajar, jika kita berjumpa pada kisah yang manis. Demikianlah seharusnya, saling menakar kedalaman hati untuk bersyukur dan belajar. Bukan iri kemudian saling membenci.

Setiap manusia hakikatnya memang berbeda dengan yang lainnya. Meski secara morfologi hampir sama, namun secara fisiologi dan kimiawi berbeda sehingga akan berimbas pada sikap, sifat, kecerdasan beserta yang lainnya. Sungguh wajar dan logis jika perbedaan itu berlanjut pada kisah yang berbeda.

Kebahagiaan itu bukan terletak seberapa besar kesamaan yang ada, bisa jadi justru sebaliknya. Pernah ada tayangan reality show di sebuah televisi yang bertajuk tukar nasib. Si kaya dan si miskin. Kedua keluarga yang bertukar rumah dan aktivitas kesehariannya. Apa yang kemudian mereka rasakan? Apakah seperti yang mereka bayangkan? Bahwa menjadi kaya adalah bahagia, dan kenyataannya tidak demikian. Mereka akan bahagia pada posisi masing-masing. Begitulah Alloh akan memberikan kehidupan sesuai dengan manusia itu sendiri. Kesiapan kita untuk menjadi apa dan siapa.

Mari menjadi lebih baik! Mensyukuri, menikmati, berbagi dan mengoptimalkaan kapasitas diri. Sebab mengeluh bukan solusi, justru mempersempit hati.

Kedu, penghujung juli 2016.






Friday, January 29, 2016

Hikmah Belajar Mempercantik Blog

Friday, January 29, 2016 0 Comments



Aktivitas blogging mulai kembali ku akrabi setelah bergabung dengan komunitas OneDayOnePost yang diprakarsai oleh Bang Syaiha, demikian nama bekennya (maaph bang). Komunitas blogging yang diawali bulan ramandhan kemarin memberikan motivasi yang luar biasa buatku. Blog yang tadinya sempat mati suri kembali hidup perlahan-lahan. Awalnya aku mempercayakan wordpress sebagai rumahku. Kemudian, keinginan mempunyai domain sendiri membuatku berpindah rumah ke blogspot. Pertimbangannya, pada blogspot aku bisa numpang hosting sedangkan di wordpress tidak.

Tampilan blog menjadi bagian penting kedua setelah isi blog. Tampilan yang menarik akan membuat nyaman pembaca dan memberikan semangat tersendiri bagi penulisnya. Aku pun berusaha mempercantik rumahku yang sudah pake domain sendiri. Dengan ilmu yang sangat minim maka aku mencoba berbagai template, obrak-abrik kode html dan ternyata tampilan blog belum sekece yang aku harapkan. Akhirnya aku biarkan saja. Pekerjaan yang menumpuk, agenda akhir pekan pun padat, blog dengan domain baru menjadi terbengkalai. Hingga datanglah tawaran Bang Syaiha mengenai urusan mempercantik blog yang nantinya bakal dikerjakan oleh muridnya. Aku menyambutnya dengan antusias full. Dua hari kemudian, tampilan blog lebih kece dan lebih nyaman. Barulah aku memulai untuk mengisinya.

Aku masih penasaran untuk urusan edit html dan mempercantik blog. Hari ini, aku berniat untuk berguru pada temanku yang mengelola blog sekolah tempat aku mengajar dulu yang sekarang menjabat sebagai kepala sekolah. Ia mengajariku dengan tempo yang cepat, dan otakku mungkin memang tidak cerdas untuk urusan ini. Ia pun membiarkan aku belajar sendiri setelah kata tegasnya muncul "Bisa sendiri kan?" dan akupun meng-iyakan. Tak ingin membuatnya repot, sebab sambil mengajariku ia juga sedang menggelar rapat rutin dengan aktivis masjid di rumahnya. Berkali-kali nyoba edit html, berakhir dengan peringatan warna merah "kode salah". Seperti biasa, sampai di sini aku mulai tergoda untuk menyerah.

"Sudah bisa?"

"Belum, masih proses."

Setelah kode salah muncul berkali-kali dan tampilan belum berubah, akhirnya aku kembali menyerah. Aku serahkan pekerjaan edit-mengedit kepada temanku yang ikut menemaniku belajar mempercantik blog. Otaknya jauh lebih encer daripada aku untuk urusan seperti ini. Aku hanya mengamati setiap pergerakan krusor, copy paste dan edit html. Aku hanya bilang atau tidak. Selebihnya ia yang mengerjakan.

"Lha malah mba Ika yang mengerjakan, gimana sih?" protes temanku yang tadi mengajari.

"Kecerdasanku untuk urusan ini sepertinya lelet," jawabku sambil tertawa.

Satu jam kemudian, blogku sudah berganti tampilan. Kali ini, ada menu drop down dan berwarna biru. Aku suka.

Satu hal yang aku pelajari dari proses ini. Kita, manusia yang memang telah diciptakan sebagai makhluk sosial tidak pernah bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain. Alloh telah memberikan kelebihan dan kekurangan pada masing-masing orang, agar satu dengan yang lain saling melengkapi dan saling tolong menolong. Untuk membuat tampilan blogku yang sekarang saja aku harus meminta tolong empat orang, muridnya Bang Syaiha (Muslim), Bang Syaiha sebagai perantara dan dua orang temanku. Padahal ini untuk satu urusan saja, sedangkam urusan manusia hidup jumlahnya tak terhingga. So, berapa banyak orang yang hendak kita mintai tolong? Tentu saja lebih banyak dari jumlah urusan kita. Barangkali di sinilah kenapa Allah dan Rosulnya sangat menganjurkan umatnya untuk gemar menolong. Sebab, setiap harinya kita butuh bantuan dan pertolongan orang lain.

Terimakasih untuk Bang Syaiha, Muslim, Pak Kepsek dan Ika atas bantuannya membuat blogku semakin cantik. Semoga Allah mencatat sebagai pahala kebaikan yang akan terus mengalir. Aamiin.

Maron, 6 Februari 2016

#OneDayOnePost #FebruariMembara_5