Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, September 4, 2018

Lembaran Baru

Tuesday, September 04, 2018 2 Comments
doc.pribadi


Reina masih duduk termangu di balkon depan kamarnya, sendirian. Matanya lurus menatap langit yang kelam, menghitam. Sesekali ia merapatkan jaket tebalnya, pertanda dingin menyapa tubuhnya yang kian kurus. Sepi pun bertandang menganti riuh yang tlah tertinggal bersama derap waktu. Agggota keluarga yang sedang berkumpul, sudah memasuki dunia mimpi. Ia sengaja pamit undur diri, dengan alasan ingin istirhat. Nyatanya, mata dan pikirannya terus melayang-layang.

Dua puluh tahun telah berlalu, namun peristiwa masa kecilnya masih melekat dalam ingatannya. Bayangan itu kerap muncul ketika ia sendiri. Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk membunuh ingatan itu. Akan tetapi, bayangan itu justru terus mengikuti dirinya yang sedang kembali terguncang.

Reina melirik Seiko-nya, “Sudah hampir pagi rupanya,” gumamnya. Namun, tak ada sedikitpun keinginan untuk beranjak. Ia masih diam membisu. Angannya kembali menerawang. Mengingat setiap episode yang telah dilaluinya. Biasanya, ia selalu mengahbiskan berjam-jam untuk ngobrol dengan Nayla sahabatnya, namun tidak untuk kali ini. Ia cukup mengingat ucapan sahabatnya itu.

“Mau sampai kapan kamu akan hidup dengan perasaan bencimu, Re?” ucap Nayla suatu waktu ketika menghabiskan senja di taman kota.

“Sampai aku bisa menerima dan mengikhlaskannya lalu memaafkan semuanya,” sahut Reina dengan tatapan kosong.

“Adakah batas waktunya? tanya Nayla lagi.

“Aku ga tahu Nay, setidaknya aku telah berusaha untuk itu semua.”

“Lalu, setiap trauma itu muncul kamu akan seperti ini? Membiarkan orang-orang kalang kabut mencarimu sementara kamu bersembunyi. Membiarkan pekerjaanmu kacau dan terbengkalai dalam waktu yang tidak tentu? Hiduplah di masa sekarang, Re! Hari ini aku masih bisa menemanimu, memarahimu, mengikuti kemauanmu, menjadi tempat segala keluhmu tapi apakah aku akan ada disisimu terus? tentu saja tidak! Setelah senja ini berakhir, aku akan meninggalkanmu. Silahkan lanjutkan hidupmu!” ucap Nayla tegas. Reina masih terdiam, tak berkutik sedikitpun.

“Aku akan ke Melbourne pekan depan, kebersamaan kita tentu tidak lagi seperti sekarang. Aku berharap kamu bisa beranjak dari dunia masa lalumu. Menepati janjimu untuk menggapai mimpi bersama.” lanjut Nayla. Reina masih terdiam. Nayla pun sama.

Pipi Reina basah, air matanya terus mengalir, nafasnya kian sesak. Ia, sedang berjuang menuntaskan segala perih yang masih saja belum reda. Waktu yang terus bertambah masih belum cukup untuk berdamai dengan takdir yang telah terlewati. Bukan waktu, tetapi seberapa luas hatinya untuk berdamai, menerima dengan sebaik-baik penerimaan. Mengikhlaskan dan kemudian menjadikannya pelajaran atau semangat untuk terus berkarya.

Maulana ya maulana Ya sami' duana Maulana ya maulana Ya sami' duana


Bunyi alarm ponsel Reina berbunyi. Menyudahi tangisnya, lebih tepatnya membuatnya  bergegas menyudahi tangisnya. Reina beranjak, melangkahkan kakinya. Ia membasuh diri dengan wudhu, berharap ketenangan menyusup perlahan. Menguatkan keyakinannya, mendamaikan hatinya. Bagaimanapun hari ini adalah hari yang paling penting dalam sejarah hidupnya. Reina telah memutuskan hal besar, meski ia harus melewati fase yang paling upnormal. Ya, nanti pukul sembilan pagi Reina akan menggenap. Membuka lembaran baru dan berdamai dengan gelap di masa lalu.

Thursday, March 1, 2018

Dialog

Thursday, March 01, 2018 0 Comments


Sunyi mulai menari, memainkan gerak, menebar pesona lalu menempati ruang-ruang tersendiri bagi pemujanya. Gelap mulai merayap. Dingin mulai merambat, tumbuh menggapai tulang belulang.

Lelah tubuh mulai terasa tetapi mata masih ingin terjaga. Hati entah kemana, sedang logika sibuk menimbang-nimbang argumentasi.

Hati dan logika akhirnya bertemu, bukan untuk mufakad melainkan terus bernegosiasi. Hingga kapan? Entahlah.

"Usiaku, sudah tidak muda lagi meski juga tidak mau dibilang tua."

"Usia bertambah bukan berarti berbanding terbalik dengan kesempatan," sanggah logika.

"Tetapi aku sudah jauh tertinggal, bagaimana mungkin memulai lagi dari nol! Mustahil," bantah hati.

"Hey, kata siapa mustahil. Kalau Tuhan sudah berkehendak, tidak ada yang mustahil. Semua bisa saja terjadi. Kewajibanmu adalah terus berusaha dan tentu saja berdo'a."

Hening.

Hati kembali menerawang batas-batas ingin dan kemampuan serta segala kemungkinan yang ia tebak sendiri. Sedang logika masih mencari argumentasi yang persuasif untuk membujuk hati yang mulai kehilangan jejak petunjuk.

Waktu terus merangkak pergi. Meninggalkan mimpi yang tak lagi diupayakan. Meninggalkan kesempatan yanh disia-siakan. Serta meninggalkan hati yang penuh dengan keraguan.

Logika masih saja mencari kata yang tepat untuk menyadarkan hati. Sedang hati, mulai mencari garis-garis alasan yang membuatnya harus menyala.

"Hidupmu cuman sekali, maukah kau menyesalinya?"

"Tentu saja tidak," jawab hati.

"Lalu, mengapa kau masih berdiam diri?"

Diam.

"Aku sedang mencari caranya," balas hati.

"Baiklah! Segera temukan dan lakukan! Sebelum takdir yang mendahuluinya."

Diskusi masih belum selesai. Masih akan terus berlanjut hingga nada yang sama akan didapati pada hati dan logika.

Ketenger, 01032018 21:37

Wednesday, September 6, 2017

Dia

Wednesday, September 06, 2017 0 Comments


      
Semalam hujan deras. Aku bisa menciumnya pagi ini. Semalam dia menangis hebat. Aku bisa melihatnya. Dari wajahnya yang terus ditekuk dan kelopak matanya yang bengkak.
Pagi ini matahari masih malu untuk keluar dari peraduannya. Aku hanya menjumpai dingin yang mulai masuk pori-pori kulitku yang cokelat gelap. Bukan hitam, sebab jika bersanding dengan jelaga panci tak sama. Sepagi ini aku juga sudah menemui air, agar keringat dan bekas lelap semalam pergi. Aku tidak ganteng namun juga tidak jelek-jelek amat, jadi aku harus mengguyur tubuhku dengan air agar orang-orang tak kejatuhan dosa karena menggunjingku yang berbau.

Aku melihatnya jalan menunduk cepat-cepat menuju tempat ia menghabiskan hari. Aku tak menyapa seperti biasanya. Hanya cukup memperhatikannya dari dekat dan juga jauh. Bukan aku cemen dan sebangsanya, hanya enggan. Namun tidak untuk menatapnya lama-lama atau seksama mendengarkan artikulasi bicaranya.

Aku masih berdiri di depan balkon kamar kos hingga perlahan-lahan matahari yang aku tunggu menyapa. Pekerja sepertiku memang harus dinikmati, datang kekantor tak perlu pagi-pagi meski pulang tak kenal waktu. Aku sengaja memilih untuk tidak berangkat pagi-pagi, sebab aku ingin melihat matahari, menikmati perjalanan hangatnya.

Dia sudah lenyap dari mataku. Aku berharap dia baik-baik saja. Kalaulah hatinya luka, semoga akan segera membaik. Aku tahu dia kuat, kalau ia menangis hebat bukan karena lemah tetapi karena sesuatu telah mengusik hatinya yang lembut.

Matahari telah mengangkasa. Kopi hitamku sudah tandas. Aku berangkat. Aku tak perlu menyemprot tubuhku dengan alkohol wangi, dia tidak suka. Sepatu sport bertali, celana berbahan jeans, hem bergaris warna gelap, tak perlu minyak rambut, itulah gaya yang dia suka. Bahagia, kerja bukan pada tempat yang mewajibkan karyawannya berseragam, ber jas dan pakaian pembatas lainnya. Kuda besi sudah siap menemani, sudah ku lap bersih. Dia tidak suka motor kotor.

Aku bersiap, menghabiskan hari pada deretan huruf dan angka-angka. Ponsel pintarku berbunyi dan bergetar. Ibu.

“Selamat pagi perempuan terhebatku!” sapaku dengan riang.

“Pagi jagoan Ibu yang masih betah sendiri!” balasnya. Kode apalagi yang hendak disampaikan oleh perempuan cantikku itu.

“Ada angin apakah, hingga pagi sekali Ibu sudah memanggilku?”

“Akhir bulan ini, sepupu kamu Burhan menikah. Pulang ya!”

“Siap komandan! Burhan juga sudah memintaku pulang untuk menemani detik sakral dalam hidupnya.”

“Lalu kapan kamu hendak menggenap?”

Ah,…lagi-lagi pertanyaan serupa. Jawaban apalagi yang hendak kusampaikan untuk mendamaikannya dan menghibur hatiku yang semakin ciut ini. Aku tak tega melukainya, namun buru-buru bukan langkah yang tepat.

“Sampai Sang Pencipta mengijinkan dan memberikan kesempatan serta bidadari yang tepat.”

“Usahamu apa?”

“Mendoakan kebaikannya dan menatapnya dari jauh.”

“Kapan memastikannya dia mau sama kamu?”

“Pada waktu yang tepat, Ibu!”

“Kapan?”

“Akhir bulan ini, sebelum pulang. Akan aku pastikan.”

“Baiklah, Ibu tunggu.”

Klik. Mati. Aku termangu. Janji macam apa yang aku sampaikan tadi? Benarkah aku mampu? Sedang menyapa saja aku masih enggan, bagaimana akan memastikan. Aku tahu, meski tidak paham betul. Bukankah menikah tak perlu dengan kesana kemari yang katanya pengenalan itu. Hatiku telah memilih. Aku yakin, dia. Akan tetapi, bagaimana dengannya? Apakah dia masih sendiri? Makin kacau saja pikiran ini. Berangkat adalah satu-satunya cara memutus rangkaian pikiran ini.

***

Pagi ini, libur. Hari minggu seperti yang lain, meski keabsahannya tidak pernah ada yang tahu. Hanya diyakini bahwa ini hari minggu. Aku tetap bangun seperti biasanya. Tak perlu beralasan mumpung minggu dan libur untuk menghabiskan waktu dengan malas dan kasur.

Seperti hari-hari yang lain. Aku menunggu matahari. Kali ini dengan jalan kaki mengitari jalanan pembatas antara deret rumah yang satu dengan yang lainnya.

Kemantapan itu datang dari sebuah mimpi, tentu saja setelah berhari-hari memikirkan dan kerasnya do’a – do’a. Semoga matahari mendukungku. Ku pilih pagi agar tak patah hati berlebihan.

Aku yakin, rumah yang berwarna biru muda dengan beraneka tanaman dan bunga-bunga adalah tempat tinggalnya. Tepat. Aku melihatnya sedang bercengkrama dengan aneka warna tetumbuhan itu. Matanya berbinar. Wajahnya sumringah.

“Selamat pagi!” sapaku dengan nada yang dibuat sedatar mungkin.

“Selamat pagi, Mas Arga! Ada yang bisa saya bantu?”

“Bapak, Ibu ada di rumah?”

“Ada Mas.”

“Boleh saya bertemu mereka? Saya ada perlu.”

Ia mengangguk dengan berbagai pertanyaan sepertinya. Rumah yang menyenangkan tampaknya. Bersih, rapi dan sejuk.

“Silahkan duduk, Mas!”

“Baik, Pak, Bu! Terimakasih?”

“Kata anak saya, Mas ini ada perlu sama kami?”

“Betul, perkenalkan nama saya  Muhammad Arga Pamungkas. Bapak dan Ibu bisa memanggil saya Arga. Kita sering bertemu di masjid komplek ini hanya saja mungkin bapak tidak paham. Saya rekan bekerja Nayla putri Bapak dan Ibu. Baru sekitar enam bulan saya kenal dengan putri bapak dan tahu kalau Nayla juga tinggal di komplek ini. Saya mengamati dan memperhatikan Nayla sejak saya harus bekerjasama, karena kebetulan kami satu bidang yang sama sejak tiga bulan yang lalu. Sepemahaman saya Nayla adalah perempuan yang insyaalloh baik dan bisa menjadi rekan hidup yang baik pula. Kedatangan saya pagi ini, hendak meminta Nayla menjadi pendamping hidup saya, jika Nayla masih belum ada yang meminta, Nayla setuju dan Bapak serta Ibu mengijinkan.”

Kaget. Begitulah kira-kiranya perasaan kedua orang tua Nayla. Dia, seseorang yang aku perhatikan setiap hari selama tiga bulan terakhir ini.

“Bagiamana mas Arga yakin dengan anak saya? Dan Nayla tidak pernah bercerita apa-apa selain dia pindah divisi tiga bulan yang lalu. Sedekat apa Mas Arga dengan Nayla?”

“Keyakinan itu datang dari yang Maha Kuasa Pak, setelah saya pikir lebih dalam dan berdo’a. Saya dengan Nayla sebatas rekan kerja, tidak dekat secara pribadi apalagi sampai pacaran seperti kebanyakan orang. Ada semacam perasaan yang menggerakkan hati dan pikiran saya untuk terus mengamati Nayla. Hal ini tidak baik Pak, kalau tidak segera dituntaskan, takut keimanan saya runtuh dan akhirnya salah memilih langkah. Sebagai laki-laki yang telah diajarkan untuk bertanggungjawab, saya memilih untuk langsung meminta sama Bapak.”

“Kalau ternyata Nayla sudah ada yang meminta atau dia menolakmu, bagaimana?”

“Kalau sudah ada yang meminta, Alhamdulillah. Semoga kebahagiaam dan keberkahan menyelimutinya. Jika Nayla menolak, Alhamdulillah. Semoga ini adalah jawaban terbaik dari usaha saya.”

“Kalau ternyata Nayla tidak sebaik yang kamu pahami bagaimana?” kali ini sang ibu yang bertanya.

“Itu adalah bagian dari rejeki dan takdir yang keduanya adalah misteri dari Sang Khalik. Kewajiban saya hanya yakin dan berprasangka baik. Jika ternyata ada hal-hal di luar yang saya angankan, maka kewajiban saya sebagai suami untuk membantunya tumbuh pun sebaliknya jika ternyata saya tidak sebaik sangkaan Nayla.”

“Apa kamu tahu kalau Nayla itu sudah janda?”

Aku menggeleng. Terkejut. Tetapi bukan sesuatu yang membuatku harus mundur. Aku yakin, tersebab jandanya bukan karena hal buruk.

“Nayla janda, dua tahun yang lalu, perceraian itu harus terjadi. Memang belum ada anak yang Alloh titipkan sama Nayla dari pernikahan sebelumnya.” lalu detik berikutnya mengalir cerita sejarah hidup Nayla. Hal-hal yang tersembunyi dari mata dan telingaku. Ah,…rahasiNYA memang terlalu sederhana untuk ku terka. Namun keyakinan itu tak bergeser sedikitpun. Andai Nayla yang salah atau menjadi sebab perceraian itu harus terjadi, itu adalah masa lalunya. Sekaranglah bekal untuk menjadi rekan hidupku nanti, meski bisa saja kesalahan itu muncul kembali. Apalah aku, siapalah aku jika berani memplokamirkan diri telah sempurna.

“Jawabanku adalah ketika kamu datang bersama orang tuamu. Pun ketika kamu memilih untuk mundur tersebab kondisi Nayla, saya tidak akan mendendam atau sakit hati. Inilah bagian hidup yang harus ada.” begitu jawaban Bapak Nayla.

Aku mengangguk. Matahari sudah semakin meninggi. Waktu dhuha sudah berakhir. Aku pamit pulang dengan jawaban yang akan ku sampaikan kepada Ibu dua hari lagi. Cuti yang kuambil, semoga cukup untuk menuntaskan teka-teki lajangku. Bukan tergesa hanya mempercepat jawaban, agar hatiku tak kacau dan hidupku normal kembali.

***

Akad pernikahan Burhan akan digelar dua hari lagi. Tetapi pagi ini, aku sudah duduk manis di kamar penuh sejarah. Matahari mulai gagah berjalan. Aku keluar dari kamar, mencari kopi dan perempuan terhebatku.

“Mana jawabanmu?”

“Minum kopi dulu Bu, biar lancar jawabannya.”

Aku mengajak Ibu duduk santai di belakang rumah. Di depan rangkaian tetumbuhan yang jenisnya entah apa saja. Memang tempat ini di desain untuk berbagi kisah dan menenangkan pikiran. Aku harus memilih pagi, agar raut ekspresi Ibu jelas kupahami.

“Namanya Nayla, dia rekan kerjaku. Aku sudah meninta pada Bapak dan Ibunya, jawabannya adalah ketika aku datang sama Bapak dan Ibu ke rumahnya. Nayla janda, Bu!”

Aku berhenti menguraikan. Sampai di situ dulu, aku ingin melihat reaksi Ibu. Tepat. Ibu diam. Matanya berkaca-kaca. Dan meninggalkanku tanpa respon. Apakah ini ending? Aku tidak tahu. Masih ada kesempatan untuk mengurainya. Aku sudah berusaha.


Matahari semakin tinggi dan kopiku sudah tandas dari tadi.


Purwokerto, 06 September 2017

Wednesday, August 30, 2017

Menemukanku

Wednesday, August 30, 2017 0 Comments

“Kehilangan seseorang yang sempat berarti dalam hidup, aku pernah. Patah dan sakit yang teramat sangat.”

“ Kehilangan sahabat yang padanya terlimpah kisah, aku pernah. Rasanya seperti kehilangan arah, bingung dan juga murung.”

 “Kehilangan bagian keluarga yang padanya kasih sayang berlimpah, aku pernah. Kehilangan nenekku. Sedih dan tentu saja berkurang jumlah orang yang memberiku cinta tanpa pamrih.”

“ Aku telah melewatinya dan masih hidup hingga kini, bukan memutuskan untuk bunuh diri macam berita-berita di televisi.”

“Lalu, kehilangan mimpi? Aku pernah. Hingga kemudian langkahku menjadi semakin tidak pasti dan kehilangan diriku sendiri. Jadi, aku yang kau hadapi saat ini bukan aku yang dulu, bukan pula aku sesungguhnya. Aku adalah keputusan prematur  dengan baju emosi. Kalau kau melihatku seolah baik-baik saja, maka kau belum mengenalku dengan baik.”

“Kehilangan kata-kata? Aku sering. Hingga emosi meluap seperti air bah. Bau, keruh dan bisa mematikan. Hingga otak serasa mati, lumpuh.”

“Tahukah kau bahwa segala macam kehilangan itu wajar sekaligus mengancam?”

Kosong.

Kau menatapku lekat, tajam lebih tepatnya. Ekspresi macam apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan, aku benar-benar tak paham. Sama sepertiku yang tak bisa paham kenapa begitu mudah bercerita kepadamu. Seseorang yang belum lama membersamaiku dalam hidup.

“Aku harus bagaimana?” akhirnya kau berkata-kata dengan ekspresi yang belum ku mengerti.
Aku menatapnya lebih dalam. Mencari cahaya di matanya yang tak lagi bening seperti bayi. Aku mencari kesungguhannya untuk memahamiku atau setidaknya membantuku menemukan diriku kembali. Aku belum yakin, atau memang keyakinanku telah melenyap bersama kehilangan-kehilangan.

Aku masih diam. Kau pun sama. Bedanya, ku buang mukaku ke arah jendela sedang kau menatap lurus cangkir kopi di depanmu.

“Apakah menikah denganku juga keputusan prematur?” dia kembali bertanya yang topiknya beda dengan pertanyaan sebelumnya.

“Tidak.”

“Aku melihatmu murung tak berkesudahan, bahkan rasa-rasanya bahagiamu tak singgah setelah bersamaku.”

Aku diam. Hatiku bergejolak. Tak mengerti. Aku bahagia, tetapi juga marah. Kecewa? Aku memilih melenyapkannya. Takut Tuhanku marah.

“Aku bahagia bersamamu. Kau kan sudah tahu, aku adalah pengingat paling ulung dan ekspresiku bergantung pada apa yang ku ingat.”

“Aku tak mau berdebat. Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Untuk perjalanan yang masih panjang ini. Aku bukan professor yang tahu segalanya, aku juga bukan ahli tafsir yang bisa mengerti segala macam kode yang kau berikan. Aku butuh kepastian dan kejelasan. Apa dan bagaimana. Hingga aku tak salah hingga akhirnya luka yang kau dapati. Aku benci perceraian. Aku benci perpisahan. Sesakit apapun aku hidup besamamu, aku aka tetap bertahan. Jadi, apa? Bisakah kau membantuku untuk membantumu?”

Aku terkejut. Baru kali ini kalimatnya panjang dan menusuk. Apa betul, aku egois? Hanya peduli pada diriku dan seluruh kehilangan ini.

Hening. Kau mencecap seduhan kopi yang sudah dingin. Aku mengikutinya.

“Pastikan aku bahagia bersamamu. Bantu aku untuk bangkit dan tumbuh. Temukan caranya sendiri. Sebab aku tak tahu. Aku tak bisa bangkit sendiri. Aku butuh kamu. Diamku, karena aku butuh kamu.”

Cengeng. Aku menangis. Ah,…bukan cengeng hanya ada yang baru saja lepas. Semacam kelegaan tak terdefinisi.

Jangan harap yang terjadi kemudian adalah adegan macam film india atau drama korea. Kau masih sama, diam di tempatmu dan menatapku dengan ekspresi yang masih tak bisa ku jelaskan.

“Hujan sudah reda, ayo kita pulang!”

Mungkin waktu dan upaya yang akan menjelaskan apa-apa dikemudian hari.

Purwokerto, 300817




Saturday, July 29, 2017

Putus Sama Kopi

Saturday, July 29, 2017 0 Comments
doc. pribadi

Aroma kopi di seberang mejaku menawarkan goda yang memikat, hidungku terus saja mengendus, menikmati setiap jengkal kepulan asap yang terus melambung tinggi, sang empu sangat paham dengan diriku yang juga pecinta kopi hitam kental dan tak terlalu manis, apalagi kopi yang diseduh adalah kopi khas daerah tertentu dengan pekat rasanya yang ter tandingi, kerling mata dan sebaris gigi yang tampak semakin kuat merobohkan benteng stop kopi sementara, bisanya, ini sih biasanya, aku langgar sendiri janji serta aturan yang aku buat sendiri, untuk diriku sendiri, tapi kali ini tidak, harusnya demikian.

Melihatku diam tak bersuara apalagi komentar, ia lantas pergi dengan secangkir kopi hitamnya serta rokok dan korek api, jodoh kopi bagi lelaki.

Dunia memang tak sebatas pada kopi dan jodohnya atau temannya atau saudaranya, tetapi bagiku dunia ikut menggelap bersama wafatnya kopi. Sementara demikian. Semoga sementara, harapku demikian. Cahaya kopi akan tergantikan dengan sesuatu yang lebih nyata, lebih peduli dan lebih menghidupkan. Mungkin. Sebab semua masih dalam bayang-bayang. Pikiranku, aku kondisikan untuk tetap pada keyakinan, pada cahaya yang akan dipendrkan lalu aku tangkap dengan kebahagiaan. Hidup memang tanda tanya sampai Tuhan memberikan titahNYA pada para malaikat untuk menjatuhkan vonis tertentu pada manusia yang lebih sering alpha mengingat Tuhannya dibanding jumlah ingat dalam serangakaian kondisinya.

Hening yang aku ciptakan untuk menyatukan yakin dan menghalau puzle keraguan, harus ambyar begitu saja dihantam suara laki-laki yang aku hafal sebab dari awal aku terdampar di kantor ini, dirinyalah yang sering berbaik hati mengantariku setumpuk laporan yang harus diselesaikan dan rincian angka-angka yang harus aku sulap menjadi cerita untung rugi.

"Ra, tumben ngga ngopi?" tanya seseorang yang duduknya di ruang sebelah dan kebetulan masuk ruanganku dan memang butuh denganku.

"Lagi putus, besok kalau udah baikan baru aku ngopi lagi," jawabku. "Ada proyek apalagi? Sampai-sampai kamu ketempatku dengan tangan kosong dan nanyain kopi?"

"Proyek masih tahap analisis di tempat Big Boss, tenang, kalau kamu butuh kerjaan datang aja ke tempatku dan rapiin mejaku, haha, aku butuh laporan detail keuangan proyek gedung Rumah Sakit Cahaya. Referensi proyek yang sama. Dan kamu siap-siap lembur. Ngomong-ngomong kamu putus sam siapa? Kok ngga denger kamu jadian?"

"Putus sama kopi, jadiannya sama kopi dong! File aku kirim ke emailmu saja, aku tidak suka berbagi kesehatan PC dengan flashdisk buluk macam itu."

"Oke, aku tunggu. Jangan lupa jadiannya sama manusia dan laki. Biar hidupku makin berwarna, ngga kayak kopi, hitam terus."

"Ada masanya, Tuhan udah nyiapin semuanya. Aku tak perlu repot dengan gandeng sana sini lalu patah hati. Dan kamu ngga perlu komentar sebelum akhirnya aku baikan lagi sama kopi."

Ia berlalu, dengan senyum dan kata-kata yang aku anggap sebagai angin lalu, seperti waktu yang berganti hitungan laju. 

Aku perempuan terlahir bersama kopi, dan akan terus bersama kopi sebelum berita hebat itu datang. Dan entah energi yang dibawa oleh angin apa hingga aku sepakat dengan berita itu. Memutuskan kopi.

"Pria yang kamu ceritakan yang diperkenalkan oleh kakak kelasmu itu, datang kemari bersama keluarganya, memintamu pada bapak, dengan ajakan untuk putus sama kopi, bapak sepakat sebab tak ada cela dalam dirinya yang membahayakan hidupmu, bapak harap kamu juga sepakat. Hanya kopi yang dia keberatan, sebab kopi membuatnya seakan berhenti menghirup udara,"

Aku yang seperti batu, mendadak mengangguk tanda setuju, merimanya dan memutuskan kopi.

Baturraden, 290717

Tuesday, April 4, 2017

Patah

Tuesday, April 04, 2017 0 Comments



Ada patah yang tak bisa lagi rekah. Apalagi tumbuh dan kemudian berbuah. Seperti bunyi yang lenyap ditelan bising. Samar lalu menghilang.

Bukan lagi jengah atau semacamnya tetapi patah yang tak bisa lagi rekah. Telah bersusah payah sepanjang usaha yang masih tersisa dan semangat yang masih tertinggal sementara, namun hasilnya hanya luka yang memarah. Bagaimana ini? Adakah jalan atau keajaiban yang mengajakku berlari? Ini kehidupan nyata bukan dongeng semata. Lalu adakah kutemukan cahaya diantara pekat gulita?

Selalu saja semua menjadi gumpalan-gumpalan tanya yang tak berujung. Belum berujung, tepatnya.

Pagi kembali menyapa hari. Memeluk dingin yang kutemui setiap paginya. Andai bisa kutelan waktu atau kumuntahkan waktu, kukira tak akan ada patah-patah yang semakin bertambah. Andai bisa ku tulis sendiri kisahku lalu segalanya berjalan dengan inginku, tentu saja takkan ada dunia ini. Ah,... itu angan retoris untuk manusia tanpa asa atau angan orang-orang yang otaknya semakin jauh menurun komposisinya. Rasa-rasanya tak pantas jika pikiran semacam itu menyapa seseorang sepertiku. Orang dengan obsesi menanjak, semangat menggila, logis, rasionalis. Itu dulu, sebelum segalanya menjadi berbelok.

"Ada apa lagi?" tiba-tiba ia sudah ada disampingku. Memecah cerita angan-angan.

"Biasa, masih dengan segala pertanyaan," jawabku dengan ekspresi sedatar mungkin. Aku tak mau mengundang seluruh penasarannya dan kemudian memberondongku dengan pertanyaan yang jelas tak kuingini.

"Ayo berangkat! Matahari sebentar lagi akan mengejar."

Selesai. Anggap saja demikian. Biarkan seluruh tanyaku tetap tersimpan rapi, biarkan seluruh rasaku tetap ditempatnya. Biar patah tidak semakin bertambah dan emosi tidak lantas tetiba melonjak seperti harga sembako.

"Selamat pagi duniaku! Semoga ada yang berbeda hari ini, biarkan angan-angan tidak membuat ceritanya sendiri," ku katakan dalam hati selepas menyalakan shabat karibku, laptop.

"Pagi mbak Zein!"

"Pagi Pak!"

"Pagi dek Z!"

"Pagi Bu Dy!"

Dan selamat pagi untuk penghuni Brown Office!

Aku suka sapaan mereka. Ceria mereka di pagi hari adalah pertanda semangat utuh menyala dalam dirinya. Lalu, kubandingkan dengan diriku, sungguh jauh rasanya. Ada apakah gerangan? Mana yang keliru? Aku yang terlampau mendrama atau mereka yang pandai berdrama?

Aku suka cerita mereka. Berbagai kisah kehidupan mengalir dengan indahnya, bukan keindahan drama yang mereka jalani tetapi cara mereka berdeklamasi. Elok sekali. Lalu bagaimana denganku? Sulit sekali rasanya untuk mendeklamasikan sesuatu yang teramat mengganggu hati dan juga logikaku.

Aku suka energi mereka. Usia yang tak lagi merdeka, bukan halangan untuk terus berkarya dengan segala kemampuannya. Ini harusnya cukup menjadi umpan bagiku, untuk kembali menemukan jalan, untuk kembali menjadi diriku.

"Dek Z, lagi sibuk?"

"Tidak pak, bagaimana?"

"Input data ya!"

"Siap!"

Ah,...andai harus tiap hari bermain dengan input data, sungguh aku rela!

Friday, February 17, 2017

Magang

Friday, February 17, 2017 0 Comments


Masih sama. Diam. Berkali-kali mataku melirik jam dinding di depan sana. Benar-benar tersiksa. Ku kira sudah bergerak puluhan menit ternyata baru beberapa menit saja. Bingung.

"Wah pilkada DKI bakal dua putaran tuh," suara bapak-bapak di belakangku.

"Itu sudah pasti, coba Ahok ngga nyeplos yang berujung kasus, udah psti dia yang menang," sahut yang lain.

"Sayang banget ya, Agus habis ini ngga punya karir. Padahal dia cerdas lho, karirnya bagus, bahkan dia bisa jadi jenderal," komentar bapak-bapak yang duduk di seberangku.

"Udahlah mbah, kita ngga tahu menahu tentang politik. Biar saja to, lha wong itu pilihan Agus kok. Otak kita itu tidak bakal sampai ke sana. Politik itu ribet penuh tak tik. Kalau kita ini tahunya ya tentang benih yang bisa lulus sertifikat terus kita bisa nyusun angka kredit, naik pangkatlah kita," sanggah laki-laki yang duduk paling ujung. Laki-laki dengan banyak komentar sepanjang aku duduk di sini beberapa hari yang lalu.

"Naik pangkat saja susah, KTI ditolak terus," sahut bapak-bapak yang duduk di belakangku, yang kemudian ku tahu namanya Rohmat.

"Antasari malah sibuk buka rahasia menjelang pilkada, Presiden kita juga aneh, ngasih grasi jelang pilkada kenapa ngga dari dulu," komentar perempuan berjilbab yang biasanya asyik dengan kertas dan komputer.

"Eh, ada yang ngomong," dan semuanya langsung tertawa, kecuali aku. Mana mungkin ikut tertawa apalagi komentar, padahal pengen banget komentar. Emang si, ngga bakal ngaruh pada hasil pilkada, disamping pilkada sudah berlalu, kami juga tidak ikut menentukan pilihan.

"Sudah ku bilang ya, urusan politik itu ribet."

"Politik itu tak hanya soal pilkada lho pak, penentuan siapa kepala dinas ini juga bagian dari politik," kata mbak berjilbab tadi.

Dan ruangan kembali lengang. Tak ada lagi yang menyahut. Semua kembali pada kesibukan masing-masing. Aku masih sama, sibuk buka whatsapp, bbm, instagram dan lainnya. Dan sibuk menghitung mundur detik waktu menuju jam pulang. Aku bisa saja tanya, apa yang harus ku kerjakan dan barangkali ada yang bisa dikerjakan untuk membunuh waktu yang bergerak seperti siput. Anehnya, aku memilih diam. Menanti perintah, arahan dan ajakan salah satu dari mereka. Dan hingga detik ini, kondisinya masih sama dengan kali pertama masuk ruangan ini.

Jam istirahat tiba. Waktu yang aku nanti betul. Bisa terbebas sejenak dengan kekakuan ini. Ahhh,....roda benar-benar telah bergerak sedemikian jauhnya. Barangkali ini cara Alloh untuk memberiku ruang untuk santai sejenak. Kalau kemarin-kemarin hampir selalu pulang melebihi jam kerja bahkan hingga malam hampir berganti, kini pulang tepat waktu dan otakku hibernasi. Lelah justru lebih mendera. Otakku serasa mati. Semangatku jelas merosot tajam. Membayangkan ke depan seperti apa, seakan ingin lari sejauh-jauhnya. Namun itu mustahil dilakukan.

Kantin ramai dihuni manusia-manusia pencari isi perut atau sekedar melarikan diri dari sekat-sekat ruang.

"Kopi atau susu cokelat mba?" tanya mba kantin melihatku mendekat.

"Kopi mba, biasa dan jangan ditambah gula."

"Ngga makan?"

"Nanti aja deh, kopi aja dulu."

Kantin adalah tempat paling bersahabat setelah mushola. Di sana bebas berekspresi. Andai mba-mba kantin jahat, mungkin dia sudah membeberkan rahasia dari orang ke orang. Padahal di sinilah segala rupa cacian dan pujian bergulir.

"Ini mba kopinya, sendirian aja?"

"Makasih mba, iya masih absen dulu sama yang buat hidup. Aku lagi libur. Sekalian makan deh mba, mie telor pedes seperti biasa."

"Oke."

Kombinasi makan siang yang jauh dari kata sehat. Namun mau bagaimana lagi, bagiku hanya itu kombinasi yang paling pas di sini. Kantin semakin ramai. Datang dan pergi. Kanan kiriku sibuk ngobrol dengan berbagai tema dan aku memilih abai.

"Rin, abis jam istirahat kamu disuruh ngadep bagian Tata Usaha," ucap Rena mengagetkanku.

"Cuman aku?" tanyaku.

"Iya, kita udah tadi. Siap-siap aja Rin!"

"Emang kenapa? Bukan perpanjangan magang kan?"

"Ntar kamu juga tahu."

Mereka pergi meninggalkanku dengan tanya. Jam istirahat tinggal 10 menit lagi. Rasanya baru sekian menit duduk di kantin ini. Ah,...waktu memang relativitas.

"Bagaimana mba Erina, kerasan di sini?"

"Kalau saya bilang ngga kerasan, bisa memperpendek waktu magang ngga pak?" jawabku asal. Beliau tersenyum dan tentu saja penuh arti. Aku sudah tidak peduli dengan penilaian orang. Keinginanku cuman satu, masa ini segera usai.

"Kerasan atau tidak waktu magang menjadi berkurang mba," beliau menatapku tajam. Aku masih diam tidak menanggapi.

"Ngga percaya? Ini, ada panggilan diklat mulai minggu depan dan selesainya tepat hingga jatah magang selesai," beliau memberikan surat tugas kepadaku. Memang benar tanggal yang tertera seperti yang disampaikan olehnya. Ingin rasanya bersorak. Ah,...bahagia banget rasanya.

"Persiapkan dengan baik persyaratannya. Setelah diklat langsung kembali lagi ke sini. Laporan lisan dan tertulis mengenai hasil diklat dan sekaligus penerimaan surat tugas penempatan."

"Baik pak. Terimakasih."

***


*setelah sekian lama tidak menulis.

Monday, November 14, 2016

Overtime

Monday, November 14, 2016 0 Comments



November sudah merangkak setengah jalan. Hujan mulai akrab bercengkrama dengan waktu. Pagi, siang, malam bukan pilihan, kapan saja ia mau, turunlah dengan irama yang terganti. Jam kantor harusnya sudah usai satu jam yang lalu. Namun apa daya, laporan kegiatan dan hujan menyanderaku tetap nyaman di kursi yang sudah memanas sejak tadi.

"Belum selesai?" tanya perempuan dengan nada khas yang sudah satu setengah tahun ini kuakrabi sebagai Big Boss di kantor ini.

"Belum bu, tinggal editing dokumentasinya." jawabku.

"Oke, ku tinggal ya! Harus jadi hari ini ya! Titipkan saja sama Bang Ramli, besok saya bawa ke kantor pusat." ucapnya kemudian berlalu.

"Baik, bu!"

Menghabiskan siang hingga penghujungnya di kantor, sudah biasa. Lembur sendirian, sudah bukan hal asing lagi. Tiba-tiba harus mendampingi Big Boss rapat dengan segala perlengkapannya sudah terlatih. Namun rasa di dalam dada ini masih saja kosong. Lelah yang datang bertubi-tubi tak membuat kelegaan mendiami kemudian. Ikhlas. Mungkinkah belum sepenuhnya hadir? Bukankah Tuhanku tak pernah keliru dalam menyuratkan takdir? Berarti ada solusi untuk semua ini.

Ku hempas sekuat-kuatnya. Perasaan yang seringkali merampas seluruh energi yang kupunyai. Harusnya aku tak boleh kalah, apalagi mengalah.

"Sudah, tak perlu disesali. Menyesali keputusan yang telah diambil hanya akan memperparah luka di hatimu. Yang harus dilakukan sekarang adalah fokus dan lakukan yang terbaik untuk kerjaanmu sekarang. Belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Ada banyak peluang kebaikan yang bisa dilakukan, tentu tak semudah yang kamu inginkan." kembali terngiang kalimat Nay kemarin. Aku membenarkan seluruh kalimatnya. Perasaan itu berimbas pada banyak hal. Produktifitasku menurun drastis. Keyakinanku tergerus sedikit demi sedikit. Mimpiku telah menguap entah kemana. Lelahku hanya berbalas kosong, sebab hatiku mengingkari semuanya.

Hujan masih riuh memecah sunyi. Jarum jam makin tragis bergerak. Adzan maghrib sudah mulai menggema di sana-sini. Kerjaanku belum juga kelar. Huaaaaahhhhh...rasanya ingin bersembunyi di lemari pendingin. Ah...mana mungkin, itu hanya ada di negeri dongeng film kartun. Kenyataannya aku harus menyelesaikan laporan ini dengan segera.

Dingin air menyapa wajahku yang sudah layu dimakan penat. Inilah cara paling ampuh mengembalikan energi sedikit demi sedikit. Cara paling mujarab menghapus keluh yang menyerobot ikhlas. Ah...Tuhan memang Maha segalanya. Ku tunaikan kewajibanku dengan sebaik yang aku mampu. Soal diterima atau tidak adalah kehendakNYA. Sebab seringkali masalah pekerjaan dan lainnya mencuri kekhusyukanku menghadapNYA.

Alhamdulillah. Baru saja melipat mukena, dering ponselku memanggil. Big boss rupanya.

"Ra, masih di kantor?"

"Masih bu, bagaimana?"

"Tolong buka email, diprint sekalian. Ada undangan rapat mendadak, saya butuh data. Minta tolong disiapkan, sekalian kamu besok ikut saya," perintah yang membuatku ingin berlari secepat cahaya.

"Baik, bu," tak ada jawaban selain itu. Telepon ditutup.

Ponselku kembali bergetar. Pesan masuk.

"Mba, telpon ya!" pesan dari adikku.

"Maaf, mba masih di kantor, besok aja ya  telponnya," terpaksa dengan berat hati.

"Ya."

"Mba lembur ya? Pulang kos jamber? Aku mau curhat." pesan dari teman kos.

"Iya, ngga tahu ini. Tambah kerjaan. Besok luar kota."

"Oh ya udah, ntar dianter siapa? kalu butuh dijemput, ngabari aja."

"Oke. makasih. Maaf ya."

"Oke."

"Bro, sibuk ngga? gue bisa telpon?" pesan dari teman kuliah dulu.

"Sorry, gue masih di kantor. Lembur neh, besok luar kota. Eh, tapi penting banget ngga neh?"

"Besok aja deh, kalau loe lagi free. bakal panjang soalnya."

"Baiklah. Sorry ya!"

"Gengs, besok ada meet up di markas jam 16.00. Agenda bahas acara tanggal 28. Kehadiran kalian bakal jadi penentu suksesnya acara. Ditunggu ye! Yang ngga bisa dateng, kasih radar ya!" pesan dari Gia sekretaris Komunika, sebuah komunitas seni yang aku ikuti. Bergabung dengan komunitas ii membuatku merasa masih punya nafas. setidaknya sebagian dari hobiku dapat teraktualisasikan meski lebih sering off daripada on.

"Gi, maaf ya. Aku absen lagi neh, keluar kota. Aku usahain pas acara bisa ikut bantu. Jobnya apa, aku ngikut aja."

"Hemmmmmm,....aku butuh ide kreatifmu di rapat besok padahal. Tapi mau gimana lagi. Kerjaanmu kan beda ama kerjaanku. hahahaha,....Take care Ra!"

"Sorry ya Gi! Tapi jangan depak aku ye! Gara-gara sering mangkir dari markas."

"Ngga janji Ra. Hahahaha...."

Aku harus mematikan ponsel, jika kerjaanku ingin segera kelar. Waktu terus mengejar, sedang ragaku mulai memberikan sinyal harus istirahat. Butuh solusi, kopi hitam kental manis sepertinya enak.

"Pak, bisa minta tolong buatkan kopi untuk saya?" pintaku pada pak Binto penjaga malam kantor ini.

"Dengan senang hati mba." jawabnya.

Aku harus bergerak cepat.



Purwokerto, 14112016

*Pemanasan setelah sekian lama off.







Monday, September 5, 2016

Terimakasih, Ta!

Monday, September 05, 2016 0 Comments

"Ta, aku lagi di kafe biasa, tempat kita menghabiskan senja bersama racikan kopi. Aku sendiri Ta, tanpa kamu. Aku tetap memesan satu cangkir machiato panas kesukaanmu dan segelas es capucino kesukaanku," bisikku pada bayu yang baru saja menyapaku. Seharusnya hujan lebih banyak datang, namun musim sudah berubah-ubah. Seperti rasa manusia, berubah tanpa perputaran waktu yang pasti.

Jarak, waktu dan kesibukan adalah ramuan alasan yang paling tepat untuk sebuah jeda. Aku kehilangan. Bukan hanya pada pertemuan yang semakin jarang, bahkan sangat sulit untuk diupayakan, tetapi pada diskusi kita yang sudah tidak lagi ada. Barangkali aku yang harus mengoreksi diri, bisa jadi karena egoisku yang mendominasi hingga kamu bosan. Atau keras kepalaku yang membuatmu jengah, atau aku yang semakin jauh dariNYA yang membuatmu kecewa, atau memang ada batas yang harus dibentangkan. Atau aku telah melukaimu hingga pergi adalah pilihan yang tepat. Aku tak mau berprasangka, sebab hanya akan mempertajam luka. Aku berusaha sekuat yang aku bisa menepisnya, sebab tak ingin kuhadirkan benci untukmu.

Kata Panji Ramdana "Cintailah Sewajarnya" , harusnya memang demikian. Agar ketika harus ditinggalkan lukanya tak sedemikian rupa. Agar ketika arah mata angin berubah, tidak gila dibuatnya.

"Ingat ya Ta, aku akan mengikuti apa yang orang perbuat ke aku. Aku hanya akan memberikan feedback. Kalau kelak kamu jarang menghubungiku, aku akan mengikuti. Mungkin bagimu balesan WA, BBM atau SMS tidak penting, tetapi bagiku sangat penting. Sebab, itu sebagai tanda seseorang masih inget sama aku," ucapku sebelum duniaku berganti.

"Tapi, kamu sama Kirana beda tuh! Kalian tetep bisa komunikasi, meski kadang pesanmu ngga dibales," bantahmu.

"Kirana lebih sering menghubungiku lebih dulu, dia juga lebih sering telepon ketimbang aku. Dan dia selalu menjelaskan ketika dia tak sempat membalas pesanku. Dia telpon balik kalau tidak sempat menjawab telponku,"

"Baiklah, aku akan berusaha menjadi sahabat yang baik untukmu. Akan ku upayakan selalu ada kabar dariku,"

Senyum mengembang, aku yakin waktu dan jarak yang kemudian membentang menjadi pemisah tidak akan pernah menggeser apapun. Namun, aku lupa bahwa angin bisa saja bergerak dari arah yang berbeda.

Hanya pemberian terbaik yang akan menghasilkan penerimaan terbaik. Bisa jadi aku memang terlalu menuntut, bisa jadi aku memang belum memberikan yang terbaik. Dan yang paling pasti ini adalah ujian bagiku.

Senja mulai habis, turun, berganti pekat yang terus meninggi. Maghrib hadir dengan lantunan adzan yang merdu. Dispensasi yang Alloh kasih, membuatku masih tetap duduk di sini. Ku lantunkan dedo'a, semoga Alloh mendengarnya. 

Aku masih punya waktu hingga dua jam kedepan. Biar saja, kunikmati seluruh kenangan yang ku miliki. Silih berganti slide masa lalu berjalan. Semoga Alloh masih berkenan memberiku kesempatan. Kesempatan menjadi baik yang seutuhnya.

"Aku rindu kamu,Ta!" tulisku di sketbook. Aku benar-benar rindu, rindu pada diskusi panjang bersamamu. Aku benar-benar merasa sendiri. Dan kamu, entah di mana. Kamu sibuk, aku tahu. Mungkin memang ada yang lebih penting, lebih mendatangkan kebaikan dibanding menghabiskan senja dan racikan kopi bersamaku.
 
Telah ku titipkan sebagian kisahku padamu. Dan kalau episodenya harus berakhir, semoga tidak ada jejak benci dan kemarahan.

"Terimakasih Ta, pernah membuatku berarti. Menerima segala kurangku dan menemani hariku. Setelah ini  bisa jadi pesanku akan semakin jarang dan aku akan berupaya sekeras untuk tidak meminta waktumu. Maaf, aku tak bisa sepertimu. Aku tak sebaik yang kamu kira," ku titipkan pesan ini pada langit. Biarkan para malaikat yang menyampaikan padamu. 

Minumku sudah tandas dari tadi dan minummu masih utuh. Sengaja tak ku minum, karena memang bukan jatahku. Karena kamu tak ada, berarti itu jatah orang lain.

Senja pun sudah habis dari tadi dan malam memang telah memasuki zonanya. Travel yang menjemputku masih satu jam lagi. Aku lanjutkan sketsaku. Satu persatu ku lepas ingin, harap, kecewa, marah yang terkadang hadir merayu hingga rasa sakit yang selanjutnya menggantikan. Semoga dengan demikian, ikhlas akan mendominasi bait-bait puisi hidupku selanjutnya.

Semoga menunggu pesanmu, sudah tidak ku lakukan lagi, agar aku bisa ikhlas melepasmu. Agar semuanya berjalan dengan ringan. Katamu, tak melulu kasih sayang ditunjukkan dengan perhatian dan pertemuan melainkan pada do'a panjang. Baiklah, ku ikuti saranmu, ucapanmu. Jika doa bertaut mungkin perasaan sentimentil macam udang rebus ini tidak pernah ada. Mungkin tak ada rindu yang sedemikian hebat hingga sesak. 

Malang, 05092017

Wednesday, August 24, 2016

Aksaraku Menghilang

Wednesday, August 24, 2016 0 Comments

Aksaraku menghilang tanpa kabar. Pergi begitu saja, tanpa pertanda. Aku bingung. Hendak kemana mencari, sebab tak ada GPS dalam aksaraku. Dalam kebuntuan aku hanya terus berharap aksaraku kembali. Nihil.

Waktu sedemikian cepat berganti dan aksaraku belum juga kembali. Harap saja ternyata tak cukup. Aku harus bergerak, berupaya sedemikian rupa untuk membawanya kembali.

Aku mulai tegas pada diri, memaksa untuk beranjak dari harap. Mulai mencari aksara yang pergi meninggalkanku. Aku mencari di antara jajaran rapi koleksi buku yang kupunyai. Mulai menyentuh satu persatu, membersihkannya dan sejenak membuka beberapa lembar. Mulai menemukan kata-kata. Namun tetap saja aksaraku belum ditemukan.

Aku mulai merapal kembali yang telah lama kulupa. Mulai menyapa jalanan dengan bus, angkot, becak dan ojeg. Menikmati warna bebau dari berbagai sumber, suara bising dan sesekali umpatan yang tak layak telinga simpan, jejak hidup manusia penduduk bumi yang beraneka. Aku larut. Namun tetap saja aku belum bisa bertemu dengan aksaraku.

Hari terus berganti, lalu kembali dengan bilangan yang berbeda. Aku mulai mendatangi perpustakaan, tempat paling nyaman setelah rumah Tuhanku untuk kabur dari rutinitas. Mataku bergerak aktif menyusuri deretan judul buku yang terpampang rapi. Sebenarnya perpustakaan ini dilengkapi fasilitas alat pencari buku yang diperlukan, sehingga akan mempercepat proses pencarian buku. Namun, aku lebih suka berjalan di antara rak-rak buku. Ada tantangan dan keasyikan tersendiri. Aku mengambil beberapa buku dengan genre yang berbeda dengan satu tema literasi. Aku berharap bisa bertemu dengan aksara yang sudah lama pergi. Aku kembali larut, menyusuri rangkaian kalimat dan berupaya menyimpannya dalam hardisk otak. Berjam-jam aku seakan berada pada dunia mereka yang menuliskan buku ini. Ternyata masih sama, aksaraku belum kembali.

Aku mulai lelah, namun aku tak mau menyerah. Aku harus menemukan aksara, entah bagaimana caranya. Aku mulai menyapa para bloger di dunia tanpa batas. Mulai mengeja kata-kata yang terangkai indah di layar kaca. Berbagai macam ide unik betebaran. Menarik. Membandingkan dengan diriku, ah... masih jauh sepertinya. Komitmen dalam diri belum sebaik mereka. Jika membaca adalah gizi terbaik, maka menulis adalah vitamin agar tetap sehat. Aku mulai larut bermain dengan berbagai tulisan di layar kaca. Hingga aku bertemu dengan status yang menawarkan alamat blog untuk dikunjungi. Bergegas aku ketik alamat blog yang telah lama sepi.

Aksara masih belum kembali. Aku masih berupaya untuk mencari.

"Tulisannya dengan hati, terus berkarya ya!" Sebaris kalimat dari seseorang pengunjung blog yang beliau telah menulis beberapa buku.
Mataku berbinar, hatiku berbunga. Ada semacam kebahagiaan yang tak terkira. Senyumku terus mengembang.

"Terimakasih sudah berkunjung," demikian balasku.

Aku mulai menemukan sinyal keberadaan aksara. Sebenarnya ia tidak pergi namun bersembunyi di antara tumpukan lelah dan malas.

"Pagiii mba Ai, kapan nih update tulisan lagi. Udah lama sepi sepertinya tuh blognya. Di tunggu lho!" pesan singkat masuk dalam ponselku. Aku seperti ditampar, lebih tepatnya dibangunkan dari tidur yang lama.

"Pagii juga Diajeng! Makasiih nih udah diingetin. Butuh pemaksaan ini buat ngisi blog lagi. Makasiih ya udah jadi pembaca blogku yang timbul tenggelam. Hehe..."

Ya. Aku telah menemukan aksaraku. Bukankah menulis itu adalah cara agar aku tetap bisa sehat? Harusnya aku sendiri yang terus bergerak. Jika orang lain merasakan manfaatnya, kemudian meluncurkan berbagai kalimat terbauknya, itu hadiah terbesar dari Tuhan. Kebahagiaan yang hadir atas apresiasi mereka bukan untuk berpuas diri, melainkan salah satu alasan untuk terus menjadi baik sebagaimana tulisan yang terbentuk. Nah, kalau yang terjadi sebaliknya, ada komplain dan tidak setuju bahkan meluncurkan kritik yang menyakitkan, maka itu adalah salah satu alasan untuk terus mengoreksi diri kemudian berbenah.

Aku harus berupaya lebih kuat lagi. Memaksa diri untuk menarikan jemari, memancing ide yang berlarian, memacu baca yang timbul tenggelam, belajar bahasa lebih detail lagi.

Malang, 23 Agustus 2016

Sunday, June 12, 2016

Mencari Jawab

Sunday, June 12, 2016 0 Comments

Suara ruang sebelah masih terdengar saling menyahut, meski tak jelas apa yang mereka diskusikan. Sesekali renyah tawa menyela. Berbeda dengan ruangan yang sedang aku huni ini. Sepi. Hanya suara detik jam dinding bergambar tim sepak bola Chelsea yang masih mendominasi. Sengaja aku tak memutar musik, agar aku benar-benar bisa menikmati sunyi. Mengembara bersama imaji, berharap menemukan sederet jawab yang ku ingini.

Suara di ruang sebelah sudah lenyap. Tak ada lagi bebunyian kecuali detik jam, yang mendadak lebih nyaring dari sebelumnya. Aku masih duduk di ujung tempat tidur dan bersandar pada dinding. Tanganku masih sibuk bermain rubrik yang belum juga berhasil menyusun dengan warna yang senada pada sisi-sisinya. Aku pikir mungkin ini pekerjaan ringan tetapi butuh strategi besar. Bisa jadi jawaban atas kekacauan pikirku tak serumit bayanganku. Apakah ini analogi yang tepat? Entahlah.

Tanganku terhenti ketika otakku sibuk mencari analogi. Mataku kemudian berkelana menyusuri sudut dan titik pada ruangan ini. Mengingat kembali sejarah barang-barang yang menghiasi ruang ini. Ada yang berasal dari pemberian, uang tabungan, ada juga hadiah menang kuis. Aku tersenyum sendiri, mengingat detailnya membawaku pada lorong-lorong kenangan.

Apa yang terjadi denganku kemudian? Buku diary bergambar menara eifel dengan latar belakang senja telah berpindah posisi. Merayu mata dan tanganku untuk membukanya. Detik berikutnya tanganku mulai sibuk membuka lembar demi lembar. Menelantarkan rubrik yang sebelumnya ku tekuni. Mengeja kalimat yang tertulis di sana. Ekspresiku berubah-ubah, andai ada yang melihat. Ada banyak episode yang telah terlewati.

Aku berhenti pada lembar dengan tulisan warna biru dan bukan tulisan tanganku. Itu tulisan Nei yang ia sisipkan sebelum pamit untuk melanjutkan hidup di kota lain.  Sengaja aku tempel. Tanganku tergerak untuk menyentuhnya. Mulutku terus mengeja kalimat yang tertulis, 

"Jangan mengkhawatirkan yang belum terjadi, jangan terlalu sibuk dengan kegagalan yang telah lalu. Sibuklah dengan urusan yang akan membawa dampak kebaikan yang lebih besar. Aku yang paling percaya kalau kamu bisa melewati semuanya."

Bukan jawaban, melainkan rentetan pertanyaan berlanjut. Kalau ada orang lain yang sepercaya itu padaku, kenapa aku justru ragu? 

Aku melanjutkan lembar berikutnya, menepis pertanyaan yang terus berkelebat mengganggu.

22 Oktober 2015
Ry, kamu tahu kan Aira? Sahabat kecilku. Ia berhasil tembus beasiswa di Jepang. Padahal aku dan dia punya mimpi yang sama. Tapi dia duluan yang bia terbang ke sana. Apakah aku harus sedih? Kayaknya ngga deh. Aku bangga sama dia. Setidaknya aku bisa dapet foto asli negeri matahari terbit yang asli bukan dari internet.

Aku tersenyum. "Apa kabarmu, Aira?" bisikku. Mataku beralih ke dinding, menatap foto Aira di depan Tokyo University, foto yang ia kirimkan setelah satu bulan ia berada di sana. Aku masih ingat sebaris kalimat yang ia tulis di belakang foto itu "Aku menunggumu di sini, Win". 

30 November 2015
Ry, tulisanku masuk nominasi 10 besar. Alhamdulillah, semoga bisa lolos 3 besar.


5 Desember 2015
Ry, aku pusing, bingung.


15 Desember 2015
Ry, tulisanku ngga lolos tiga besar. Keep writing!


Aku masih terus membaca catatan. Ada rentetan peristiwa yang aku masih bisa merasakan kebahagiaan sekaligus kabutnya. Ada juga yang sudah terlupa.  

Sunyi semakin menjiwai. aku masih sibuk dengan rangkaian kalimat tanya. Menerka jawab lalu menganalisisnya. Betapa segala yang sulit akan menuai muaranya, yang masih berat akan kembali menguji. Ujungnya adalah penerimaan. Seberapa lapang dada ini menampungnya. Diam hanya akan memperparah bukan menyembuhkan.

Suara getar ponselku mengacau proses menemukan jawaban ini. Surat elektronik dari Raini. Perempuan dengan tangguh sekaligus pemberani dalam mengambil keputusan. Baginya semakin cepat mengambil keputusan semakin cepat pula ditemukan solusi. Selalu riang meski beban di pundaknya tidak ringan. 

Hai Win,
Aku kangen kamu! Kamu sudah tidur ya? Insomniaku kambuh, tiba-tiba inget kamu. Mau telpon takut ganggu. Aku butuh cerita. Sory ya! Aku cerita di sini saja. Kalau sempet bales, eh harus dong! hahahahaa kalau ngga maksa bukan aku kan?
............................................................................................................................................................
............................................................................................................................................................

Blogmu sepi, kapan nulis lagi? Lagi sibuk? Kamu masih hidup kan? hahaha mulai ngaco. Aku tunggu balasennya ya! 

Your Sister
Raini


Aku terdiam sejenak. Membaca ulang email dari Raini. Membuka lagi diaryku. Membaca ulang sekilas. Hatiku kembali berkata, "kalau ada banyak orang yang masih mempercayaiku, kenapa masih terus berdiam diri?".

Jawabannya adalah diriku sendiri, bukan orang lain. Jawabannya adalah pada terus melangkah bukan berhenti. Bukankah semuanya akan bermuara?


Purwokerto, 12062016








Friday, February 5, 2016

Dua Lelaki

Friday, February 05, 2016 0 Comments

Sumber: www.dakwatuna.com


Lelah mengembara di lorong-lorong sunyi hatinya. Diam adalah caranya memeberikan jeda pada dunianya yang tak lagi sama. Lelaki dengan kopyah putih kumal mendekatinya, menepuk bahunya. Kepalanya mendongak, seulas senyum pahit tersungging sebagai respon. Matanya sayu menatap laki-laki di depannya. Tak bersuara. Kepalanya kembali menunduk. Matanya lurus menatap tanah yang ia pijak.
"Sudah adzan maghrib, lekas beranjak!"
Ia hanya mengangguk, tidak menjawab, lalu bangkit menuju belakang rumah. Menimba air, menuangkannya dalam ember bekas cat yang telah dilubangi kemudian mengalirkannya untuk wudhu. Dingin air tanah pegunungan menelusup ke dalam pori-pori kulitnya. Ada binar yang sedikit lebih hidup setelah selesai wudhu. Ia bergegas menyusul lelaki berkopyah kumal menuju mushola ujung desa. Masih dengan diam, langkahnya dipercepat. Meski hatinya sedang tidak bersahabat, namun menjadi makmum masbuk jelas bukan pilihan.
***
Dingin. Angin pegunungan yang riuh menerpa apa saja tak ia hiraukan. Ia masih duduk termangu di beranda rumah. Sendiri. Menatap langit lepas. Menghitung bintang yang masih bisa ia tangkap dengan matanya. Tubuhnya ia bungkus dengan sarung tipis kesayangannya. Akhir-akhir ini ia seperti menjelma menjadi orang lain. Wajahnya yang periang hilang begitu saja. Geraknya yang selalu bersemangat pun turut memudar.
Lelaki berkopyah kumal keluar rumah. Mendekati anak lelaki satu-satunya. Ia mengambil nafas panjang. Mengusap-usap kepala anaknya yang terus menatap langit dengan bisu.
"Apakah ikhlas itu punya pilihan?" tanya lelaki berkopyah putih kumal kepada anaknya.
Anak lelakinya masih diam.
"Kenyataan memang seringnya menyakitkan. Melumpuhkan kekuatan tiba-tiba."
"Apakah ikhlas itu punya pilihan?" tanya lelaki berkopyah putih kumal itu sekali lagi.
"Bapak punya jawaban sendiri kan?" akhirnya anak itu berbicara. Senyum lelaki itu mengembang.
"Jawaban bapak bisa jadi berbeda denganmu,"
"Ikhlas tidak punya pilihan sebagaimana sabar yang tidak ada batasnya."
"Sepakat! Lalu kenapa mendung masih terus menaungi wajahmu?"
"Hatiku butuh waktu untuk kembali normal, pak! Kegagalan ini membuatku semakin bersalah. Merasa belum bisa menjadi anak lelaki kebanggaan ibu. Aku khawatir ibu kecewa di alam sana."
"Lelaki memang butuh waktu untuk berpikir, merenung, menimbang, memutuskan dan bertindak. Namun jika terus berlarut kapan akan beranjak?"
Anak lelaki itu kembali terdiam.
"Bapak lebih senang kamu tidak jadi pergi, namun jika setiap hari bertemu dengan wajah mendung, bapak lebih rela engkau kembali mengejar mimpi."
Anak lelaki itu tak menjawab. Keinginan untuk sekolah di kota terlalu kuat mengikat hatinya. Kegagalannya adalah bagai tumbuhan layu, enggan untuk hidup.
Lelaki berkopyah putih kumal itu masuk ke rumahnya kembali. Meninggalkan anak lelakinya yang masih diliput mendung. Ia terus berharap keceriaan dan semangatnya kembali menghiasi anak lelakinya. Meski kemungkinan ia harus melepas anak lelakinya pergi mengejar mimpi sebagaimana harapan mendiang istrinya.
Kedu, 05022016
#OneDayOnePost #FebruariMembara_4

Sunday, January 31, 2016

Gerimis

Sunday, January 31, 2016 4 Comments


Sumber: https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images

Gerimis masih menari di atas hamparan bumi. Dingin merambat, menelusup dalam pembuluh darah. Membuatnya menyusut lalu gigil datang kemudian. Aku masih duduk di emperan toko sepatu paling terkenal di kota ini. Aku bisa saja menerobos dan berlari. Menyusuri jalanan kota yang becek. Namun aku lebih menikmati duduk berlama-lama di sini, menyaksikan gerimis dan keliaran manusia berlarian.

Sepasang suami istri tak jauh dari tempatku berada, sedang bercengkrama. Sesekali mereka tertawa bersama. Buntalan kumal betada di sampingnya, entah apa isinya. Menit selanjutnya, mereka terlihat membisu. Menekuri gerimis yang masih cantik menari-nari. Pandanganku beralih. 

Gerimis yang belum berhenti, tak membuat segala aktivitas terhenti pula. Lalu lintas masih tampak seperti biasanya. Semakin tambah bilangan menit dan jam, jumlah kendaraan yang melintas semakin padat seiring jam pulang kerja khas kota ini. 

Duarrrrrrrr.....srrrreeetttttt

Dua kendaraan roda dua saling bertabrakan. Jalanan yang licin sepertinya memicu jatuhnya dua kendaraan tadi. Atau berebut keinginan untuk segera sampai rumah. Bercengkrama dengan keluarga atau mendekam dalam kamar untuk meleps lelah. Atau sebab yang lain, selain memang takdir yang Maha Berkuasa. Aku tak ikut bangkit, hanya menyaksikan dari jauh saja. Aku bukan termasuk manusia kepo, namun bukan berarti rasa peduliku hilang. Aku melihat sudah banyak yang menolong, ku pikir tenagaku sudah tak diperlukan. 

Hanya sekejab. Keramaian akibat kecelakaan tadi telah hilang. Petugas yang datang membawa dua korban secara otomatis membubarkan serumpun manusia tadi. Gerimis telah berhenti. Namun, aku masih di sini. Masih ingin duduk, menatap lepas dan berganti-ganti. Menunggu senja yang sebentar lagi turun. Mungkin bukan kemilau jingga seperti biasanya. Sebab, gerimis sudah lebih dulu datang merampas.