Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Tuesday, July 24, 2018

Delapan Bulan Sepuluh Hari

Tuesday, July 24, 2018 0 Comments
doc.pribadi


Delapan bulan lebih 10 hari, saya telah melewati garis warna warni menjadi seorang ibu paruh waktu. Galau, bingung, khawatir, cemas, takut dan seabrek perasaan kacau lainnya yang kerap kali singgah menggoda keyakinan. Masih sering kalang kabut panik ketika menemui kondisi tertentu pada anak, meski terkadang saya masih lebih kuat dibanding suami (sok kuat padahal aslinya panik). Namun, bahagia, seru, haru dan perasaan positif lainnya yang tak kalah hebat. Menjadi lebih bersyukur dibanding sebelumnya. Menemani dan mendampingi (meski tidak full 24 jam) tumbuh kembang anak perempuan saya adalah hal yang menajubkan.

Perkembangan anak saya jelas berbeda dengan anak-anak lainnya, kan anak saya bukan anak orang lain. Kesadaran bahwa setiap anak memiliki pola dan keunikan yang berbeda-beda terus saya sematkan. Setidaknya kesadaran ini yang akan terus memberikan sugesti positif terhadap segala perkembangan yang terjadi. Alloh pasti telah memberikan paket hadiah yang komplit, tinggal follow up dari saya saja yang harus jeli dan maksimal.

Pada usianya yang sudah melewati angka 8 bulan memang seharusnya sudah melalui tahap perkembangan ini itu jika mengacu pada milestone perkembangan anak. Namun yang terjadi pada anak perempuan saya tidak demikian, meski masih dalam batas normal sampai saat ini. Khawatir, cemas, takut itu jelas, namun memaksakan harus seperti teori itu tidak boleh. Kewajiban saya hanya terus memberikan stimulasi yang alamiah dan sugesti yang positif. Ini bukan main sulitnya karena urusannya sama hati dan emosi, namun dari sinilah keyakinan, kesabaran dan keikhlasan menuai ujiannya. Tidak boleh lelah, tidak boleh mengeluh apalagi putus asa.

Alhamdulillah saya punya teman-teman yang usia babynya hampir seumuran atau bahkan di atasnya dan hebatnya anak-anak mereka perkembangannya lebih, jadi saya bisa belajar dari mereka, bagaimana menstimulasi, bagaimana mengatasi ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan alhamdulillah mereka punya sugesti yang positif dan terus menguatkan. Terkadang saya iri terhadap teman-teman yang bisa menjadi full mother. Rasanya lega gitu bisa mendampingi full setiap perkembangan anak. Namun perasaan ini tidak boleh dibiarkan terus menerus mendiami hati saya yang harusnya terus kuat. Setiap kita punya peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda bukan? Ini peran dan tanggung jawab yang saya ambil, so harus siap dengan segala konsekuensi yang harus ditanggung.

Saat ini anak saya sedang mengalami problem makan, bahasa kerennya GTM (Gerakan Tutup Mulut). Galau, cemas, takut dan sejenisnya mulai mendiami, terkadang emosi dan setengah putus asa. Sudah menyempatkan membuat makanan dengan variasi semampu saya dan berakhir di mulut saya bukan di mulut anak saya itu membuat luruh seluruh energi. Mau nangis, teriak dan marah tapi kok ya malah tambah buruk sepertinya. Akhirnya lari ke makanan instan meski ini bukan solutif, tetapi untuk sementara daripada perutnya kosong. Bagi yang tidak sepakat monggo ya. Karena saya mentok dan kendalanya saya ibu paruh waktu. Buah-buahan yang biasanya langsung hap hap saja, ini tidak. Kan saya tambah panik, maka sementara waktu dikasih biskuit dan bubur instan, ini pun juga tidak lahap. Sedih itu sudah pasti, namun kembali lagi saya harus tetap waras agar bisa menemukan solusi. Ini menjadikan saya lebih rajin mencari info dan diskusi dengan teman-teman. Beberapa saran sudah saya jalankan dan hasilnya belum signifikan. Upaya saat ini diberi nutrisi yang kata para pengguna bisa nafsu makan anak-anaknya meningkat. Semoga berhasil.

Setelah menjalani dunia istri dan ibu, saya sering menemui diri saya yang kacau tidak tahu penyebab jelasnya apa dan bagaimana bisa terjadi. Barangkali efek dari beberapa hal yang saya pendam sendiri atau tumpukan kekhawatiran yang tidak menemui jalannya atau kebingungan yang saya sendiri tidak tahu apa (tambah bingung kan?). Meski sebelum menjadi istri dan ibu saya pernah mengalami ini, namun kemudian tersamar tersebab aktivitas yang berbeda-beda. Berbeda dengan kondisi sekarang yang punya keterikatan waktu dan tanggung jawab. Saya harus mengembalikan kenormalan diri saya agar tidak berdampak buruk terhadap anak saya. Saya harus mengembalikan nilai-nilai positif yang ada pada diri saya agar saya bisa mendampingi anak saya dengan benar. Saya, akan mencoba menulis lagi setiap hari, membaca buku dan diskusi berfaedah yang memungkinkan, siapa tahu ini menjadi salah satu jalan menuju kenormalan diri saya.

*mengumpulkan semangat





Monday, September 4, 2017

28 Week Pregnant

Monday, September 04, 2017 0 Comments


Sabtu, 2 September 2017 kemarin aku cek HB, HBsAg, IMS, HIV, kadar Albumin dan tentu saja kondisi anakku di Puskesmas wilayah tempat tinggal. Ternyata, harus menunggu lama sampai saatnya dipanggil dan menjalani prosedur pemeriksaan. Alasan klasik yang dikemukakan oleh pihak puskesmas setelah aku komplain kenapa lama padahal antrianku nomor satu di poli Kesehatan Ibu dan Anak. Sudahlah, negeri ini memang butuh reformasi terkait pelayanan dan birokrasi, termasuk aku sebagai salah satu abdi negara.

Alhamdulillah, hasil cek ini itu yang disarankan oleh bidan dalam keadaan baik. Kondisi janin kata bidan normal dilihat dari detak jantung per menitnya. Posisi janin memang belum masuk panggul, kalau baca-baca referensi janin masuk panggul di atas 30 week. Hanya saja aku tidak memastikan bahwa posisi kepala janin sudah di bawah atau belum. Mendengarkan detak jantung anakku menjadi lupa segalanya. Fokusnya hanya bahagia. Semoga kalau akhir pekan ini USG, kepala janin sudah berada pada posisi yang seharusnya.

Dua bulan lagi, kamu akan melihat dunia Nak! Status dan tanggung jawabku juga bertambah. Alhamdulillah. Dan semoga Alloh memberiku kekuatan dan energi berlebih untuk menjalani babak baru. Aamiin.

Nak, amah Reni cerita kalau posisi debaynya belum berada pada posisi seharusnya. Kita doain semoga semuanya baik-baik saja ya! Oia, amah Reni itu teman nananina sekaligus saudara seperjuangan Bunda dalam per-Cakep-an Temanggung. Kelak, anak pertamanya akan menjadi saudaramu, semoga jenis kelamin kalian sama. Usia kalian juga hanya bertaut hari. Semoga kalian sehat ya sampai pada saatnya melihat dunia. Semoga kelak kalian menjadi bagian dari estafet perjuangan untuk menegakkan risalah di negeri ini. Aamiin.

Nak, kalau sampai saatnya nanti kamu melihat dunia dan Bunda harus bekerja, baik-baik di rumah ya! Bunda akan membersamaimu di waktu sore hari hingga pagi hari. Kita manfaatkan waktu dengan baik, ingatkan dan bantu Bunda untuk bisa memenuhi hakmu dengan baik. Kita berjuang bersama untuk menjadi manusia yang bermanfaat ya Nak!

Nak, Bunda tidak akan beralasan bahwa bekerjanya Bunda untukmu, demi kamu, demi masa depan dan lain sebagainya. Bunda bekerja karena tugas yang harus dilakukan, keputusan yang telah Bunda ambil sebelum engkau ada. Setiap manusia punya peran masing-masing, nah Bunda mengambil peran untuk menjadi abdi negara. Pertama, sebagai wujud bakti Bunda pada Kakek Nenek dengan memenuhi keinginan mereka. Kedua, sebagai aplikasi dari kesarjanaan Bunda. Ketiga, karena ada tanggungjawab lain yang kelak akan Bunda ceritakan secara langsung. Bekerjanya Bunda bukan berarti mengesampingkan kehadiranmu atau menomorsekiankan kamu. Kehadiranmu adalah rejeki yang tak ternilai, dan bahagianya Bunda juga tak bisa diganti. Bunda titipkan kamu sama Alloh, Mamih, Budhe, Bulik yang kelak akan menjagamu ketika Bunda atau Ayah tidak ada di sampingmu. Beritahukan apa-apa yang kamu rasakan atau pengalaman yang kamu peroleh ketika Bunda tidak ada. Bunda akan berusaha mendengarkan dengan baik dan tersenyum serta memelukmu sebagai wujud cinta yang tak terkira.

Nak, teruslah tumbuh dan berkembang dengan baik. Bunda, menunggumu di sini.

Monday, August 21, 2017

Teruslah Tumbuh

Monday, August 21, 2017 0 Comments
 


"Ada keluhan lain ngga Mba?" tanya bidan.

"Bagian tubuh belakang, mulai dari punggung hingga pinggang trus kaki, sering pegal dan sakit Mba!" jawabku. Bidan di depanku masih relatif muda, barangkali hanya beda beberapa tahun di atasku. Pembawaannya yang ramah, riang membuatku nyaman konsultasi kepadanya. Sengaja aku memilih jum'at sore selepas kerja agar bidan tersebut yang memeriksa.

"Itu wajar, ini belum seberapa. Nanti menginjak usia kandungan di atas 30 minggu akan semakin terasa pegal-pegalnya. Hal itu disebabkan perut yang semakin membesar dan otot-otot tulang ikut ketarik. Akan tetapi, itulah nikmatnya orang hamil, alhamdulillah Mba dikasih kesempatan untuk itu. Saya saja yang sudah menunggu lama belum juga. Eh, kok malah jadi curhat." jawab bidan sambil tersenyum kemudian.

"Ayo Mba, saya cek dulu tinggi janin sama detak jantungnya."


Fabiayyi alaa-i Rabbi kumaa tukadzdzibaan, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Ada perasaan bahagia, haru, ajaib dan segenap perasaan lain yang sulit untuk dilukiskan setiap kali mendengar detak jantungnya, merasakan gerakannya atau melihatnya di layar monitor USG. bArangkali segenap perasaan inilah yang tidak dimiliki oleh perempuan lain yang tidak hamil. Maka segalanya menjadi nikat tak terkira. Banyak di luar sana yang masih terus harus menunggu, sedang usia pernikahan mereka sudah berbilang. Namun, tidak sedikit perempuan-perempuan tega memutus harapan hidup bayi yang dikandungnya dengan dalih dan berbagai macam alasan, tidak sedikit yang kemudian menelantarkan atau bahkan menjual anaknya dengan alasan yang tidak logis.

Dunia memang kadang berbalik-balik atau sengaja dibalik-balikan oleh mereka manusia-manusia tak bertanggungjawab. Dunia terkadang mendadak menjadi gelap, bagi mereka-mereka yang jauh dari rasa sukur hingga hal-hal yang tak logis menjadi rasional dan yang tabu menjadi layak untuk dilakukan. Dunia ini semakin entah, justru disaat teknologi dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Ada perasaan was-was yang kadang menggoda, dunia seperti apa yang kelak akan dihadapi anakku, orang-orang macam apa yang akan ditemuinya. Ah,...ku titipkan pada Sang Pemilik dan sebaik-baik penjaga.

"Bunda mendengar detak jantungmu, nak. Bunda merasakan setiap gerakanmu, nak. Teruslah tumbuh dan berkembang dengan baik." kubisikkan kebahagiaan ini padanya, degub jantungku pertama, agar ia tahu betapa bahagianya aku atas kehadirannya.

"Detak jantungnya 140 kali per detik ya Mba! Normalnya 120 - 160 kali per detik." aku mengangguk dan tersenyum.

"Datang lagi sebulan lagi, kalau ada keluhan silahkan untuk datang walaupun belum satu bulan. Banyak istirahat,olah raga ringan. Sehat-sehat terus ya Mba!"

"Baik. Terimakasih ya Mba!

Hari ini, usia anakku tepat 26 minggu 5 hari dalam kandungan, atau masuk trimester ke-tiga. Alhamdulillah, hingga hari ini semuanya baik-baik saja. Keluhan yang sempat kuutarakan sama bidan adalah sebuah kewajaran. Fitrahnya memang begitu. Semoga semuanya akan terus baik-baik saja hingga saatnya anakku melihat dunia, pun setelah ia lahir.

Terus ku langitkan dedo'a pada Rabbku Sang Pemilik dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu untuknya, degub jantungku pertama. Agar kelak ia menjadi manusia yang lebih taat pada Alloh, Rabb semesta serta lebih baik dari aku dan juga ayahnya. Aamiin.

Terimakasih ya Rabb, atas segala nikmat dan kesempatan ini, bimbing aku menjadi ibu yang meneduhkan dan mampu mengantarkan anakku untuk mencintaiMU dan seluruh jalan yang engkau pilihkan. Semoga Engkau memberikan kesempatan yang sama kepada saudara perempuan lainnya yang saat ini masih menunggu degup jantungnya hadir dalam diri dan dunia mereka.


Bojongsari, 21 Agustus 2017

Friday, July 14, 2017

Menikah

Friday, July 14, 2017 0 Comments



Menikah. Tidak sesederhana huruf-huruf yang membentuknya dan mengucapkannya. Komplek. Ada banyak hal yang harus diperhatikan dan diperjuangkan dalam perjalnannya. Nyatanya pahala menikah memang tidak main-main, menggenapkan separuh agama. Ingat ini, maka apapun yang dihadapi ketika menjalani sebuah pernikahan niscaya hati menjadi lapang, selapang-lapangnya.
Dulu, sewaktu masih sendiri, membayangkan pernikahan tidaklah sekomplek ini. Memang, dulu ketika masih sendiri ada banyak kekhawatiran dan ketakutan kalau-kalau begini, begitu, dengan melihat fenomena saat ini. Namun setelah menikah, justru hal lain yang dihadapi.
Aku menikah termasuk dalam kategori yang lambat. Baru menikah dipenghujung umurku yang ke-28. Harusnya, dilihat dari usia sudah cukup matang atau bahkan tua. Namun ternyata, aku masih harus menempa diri lebih kuat lagi agar dapat terus menghiasi pernikahanku dengan wewangi, setidaknya tercium wangi.

Romantis. Biasanya ini yang dibayangkan oleh para perempuan sebelum menikah, apalagi oleh perempuan pecinta drama Korea. Dalam benak perempuan, seorang laki-laki itu adalah seseorang rajin memberi hadiah dan kejutan, seikat mawar merah, sebatang cokelat, bertabur puisi rindu dan berhias kata-kata cinta (hahaha). Mimpi. Meskipun ada sebagian laki-laki yang demikian, bahkan Rosulalloh pun adalah laki-laki yang romantis dan penyayang terhadap istri-istrinya. Namun, kenyataannya lebih banyak laki-laki dengan tipe standar. Menikah adalah zona aman baginya, tak perlu lagi menunjukkan apa itu perhatian, apa itu sayang, apa itu cinta. Menikahi berarti mencintai, menyayangi dan memperhatikan. Ini yang kadang menggoda perempuan untuk protes, marah dan bisa jadi menyesal lalu terjadilah hal-hal yang tidak baik.

Kembali lagi, menikah bukan hanya tentang ungkapan-ungkapan cinta dan romantisme. Meski ini penting untuk tetap membuat pernikahan yang sudah berusia menjadi berasa baru kembali. Bagiku, romantisme itu bisa dilihat dari berbagai sudut pandang dan cara menyikapinya. Misalnya, suami mau ikut bantu di dapur atau hanya sekedar menemani, itu sudah romantis. Ketika pagi-pagi dibuatkan teh oleh suami itu juga sudah romantis. Bukan karena aku tidak suka hadiah, bunga, atau puisi cinta tetapi suami bukan tipe demikian sepertinya. Romantis itu adalah ketika sedikit saja suami bisa memahami apa yang kita mau tanpa harus diminta. Tidak perlu banyak jika mampunya dia hanya sedikit. Lihat diri kita pribadi, sudah sebaik apa menjadi istri, sudah sepaham apa terhadap suami. Jadilah perempuan yang mampu menakar kualitas diri sebelum meminta lebih kepada suami. Bukankah ketulusan pemberian akan berimbas pada ketulusan penerimaan?

Pernikahan kita adalah dunia kita bukan dia atau mereka. Yang tahu dan paham adalah kita masing-masing. So, jangan gampang baper dan silau dengan pernikahan orang lain. Dan jangan pula gampang marah kalau ada yang komentar negatif tentang pernikahan kita, jadikan itu sebagai instropeksi dan motivasi untuk lebih baik. Alloh memberikan episode yang berbeda-beda terhadap pernikahan satu dengan yang lainnya adalah agar kita mampu bersyukur dan mengambil pelajaran.

Aku menuliskan ini untuk menjadikannya pengingat bahwa keputusan menikah bukan keputusan sepele. Pertanggungjawabannya dunia akhirat. Apapun, bagaimanapun harus tetap lurus menatap masa depan. Berjuang dan berupaya sebaik-baiknya. Menghiasinya dengan tawakal dan berdo’a. DIA yang Maha Tahu atas segala yang baik, untukku dan keluargaku.


Bojongsari, 14 : 47 14072017

Friday, July 7, 2017

Mikir

Friday, July 07, 2017 0 Comments


Ramandhan telah berlalu begitu cepat. Dan tahun ini aku tidak bisa puasa hingga akhir. Kondisinya tidak sesuai dengan harapan. Muntah, pusing dan keluhan lain hingga akhirnya memilih tidak melanjutkan puasa. Ada kecewa yang masih menggantung hingga hari ini, ibadah pun belum bisa maksimal. Semoga tahun depan masih bertemu ramandhan dengan kerempongan yang berbeda tentunya dan semoga lebih bisa membawa makna lebih. Aamiin.

Lebaran juga telah usai. Masing-masing telah kembali pada aktivitas dan rutinitas, tak jauh beda denganku. Berangkat jam tujuh pagi pulang setengah empat, mulai Senin hingga Jum'at dengan aktivitas kerjaan kantor yang tidak banyak. Alhasil ini justru memperkeruh keadaan. Semangat semakin mengendur dan mimpi-mimpi seakan semakin samar.

Kemaren, sempat share ke teman kenapa hamil malah semakin malas? jawaban dia, sama. Ah, barangkali bukan masalah hamilnya tetapi lebih kepada diriku yang memang belum berupaya kuat membabat abis kemalasan yang membelenggu.

Perut yang terus membesar memang sedikit banyak memang berpengaruh pada aktivitas fisik. Namun, harusnya tidak untuk aktivitas otak, membaca misalnya. Virus membaca yang dulu menjadi bagian dari diriku, perlahan pun mulai hilang kekuatannya.

Ingat peran seorang ibu yang kelak akan diemban dengan segala kewajiban yang tidak ringan membuatku merenung pagi ini. Nampaknya, aku harus mencari cara agar kemalasan ini perlahan luntur dan hilang, berganti dengan kobaran semangat untuk belajar dan memperbaiki kualitas diri. Mimpi yang terkesan mengabur, biarlah. Usaha untuk meraihnya itu yang terpenting, masalah nanti akan menjadi kenyataan atau tidak, sudah menjadi garis takdir yang harus kuikhlaskan.

Coba hitung menghitung usia janin dalam versi masa subur, ternyata oh ternyata, janinku akan atau sudah 120 hari. Itu artinya Alloh akan atau sudah meniupkan ruh ke dalam janin. Alloh, ternyata secepat ini. Barangkali inilah yang memperkuat motivasiku untuk meningkatkan semangat memperbaiki diri. Maka benar adanya, bahwa isu masyarakat tentang anaklah sumber kekuatan dan rejeki berharga hingga pengorbanan apapun dilakukan. Walaupun aku belum sedramatis itu sih, tetapi setidaknya menjadi lebih banyak mikir kudu lebih baik (mikir dulu, diikuti tindakan semestinya, semoga).

Maka hari ini, jadilah diriku curhat ngalor ngidul begini. Ini dalam rangka proses mencari inspirasi dan cara mengaktifkan kembali sel-sel neuron yang sudah lama dormansi. Nyatanya butuh rangsangan yang signifikan agar benih berkecambah setelah dormansi dalam jangka waktu yang relatif lama (efek jadi pegawai benih :D).

Do'a - do'a baik harus dikuatkan, agar gerakannya meroket hingga menembus penduduk langit. Berbagai harapan baik terlintas dan terucap untuk degub jantungku yang pertama. Semoga Alloh mengijabah dan memberikan kekuatan kepadaku untuk mengantarkan anakku menjadi bagian dari orang-orang baik yang membaikkan. Aamiin.


Bojongsari, 07072017


Wednesday, May 31, 2017

Puasa Saat Hamil

Wednesday, May 31, 2017 0 Comments



Setelah kemarin cerita soal drama kehamilan trimester pertamaku, kali ini berlanjut ke cerita memasuki trimester ke-dua. Memasuki trimester ke-dua kondisiku sudah mulai aman terkendali, artinya sudah kembali normal. Makan sudah mulai enak meski belum bisa banyak, mual-mual dan muntah hanya sesekali saja. Alhamdulillah.  

Puasa ramandhan bagi ibu hamil dan menyusui memang tidak wajib, alias mendapat keringanan dengan mengganti di hari lain atau membayar fidyah. Namun, puasa ramandhan yang datang hanya setahun sekali dan di dalamnya dijanjikan keberkahan serta pahala meningkatnya ketakwaan, maka sungguh sayang apabila terlewat begitu saja. Maka, aku mulai mencari informasi yang berkaitan dengan puasa bagi ibu hamil. Untuk kehamilan yang memasuki trimester ke-dua relatif lebih aman dibanding pada usia kehamilan trimerter pertama atau ke-tiga. Sharing dengan teman-teman yang sudah mengalami fase puasa saat hamil dan sebagian dari mereka menjalani dengan lancar dan aman.  
Bismillahirrohmannirrohhiim, aku ikut puasa ramandhan. Sesuai anjuran teman dan beberapa referensi yang aku dapat, aku upayakan tubuh bisa tercukupi nutrisi meskipun sekitar 13 jam puasa. Hal-hal yang aku siapkan di antaranya adalah saat sahur minum air kurma, air putih, air madu dan makan nasi beserta sayur dan lauknya serta buah, kemudian saat berbuka setelah makan berat minum vitamin dan upayakan minum air putih yang cukup dari jeda berbuka sampai sahur. Alhamdulillah puasa hari pertama hingga ke-tiga lancar meski setelah ashar tubuh berasa lemas dan habis makan saat berbuka perut bereaksi tidak enak, hanya sekitar 30an menit saja sih setelah itu normal kembali. Barangkali itu hanya reaksi perut terisi setelah kosong. Memang berbeda rasanya berpuasa saat hamil dengan tidak.

Hari ke-empat terjadilah drama, bukan drama korea yah. Kepala terasa pusing sejak siang pada puasa hari ke-dua, aku pikir ini hanya reaksi karena perut butuh diisi. Namun ternyata, hingga malam pusing masih berlanjut. Berhunung tidak boleh minum obat sembarangan akhirnya dioles minyak angin di bawah telinga, leher hingga ke bahu, berharap pusing segera mereda. Akhirnya tertidur. Tiba-tiba sekitar jam 2 pagi, kepala luar biasa sakitnya ditambah sinyal mau muntah. Dan benar saja, muntah-muntah datang. Kepala semakin berdenyut sakit, ulu hati juga. Pertolongan pertama, minum air putih. Biasanya setelah muntah sakit kepala mulai mereda, namun ternyata ini tidak. Alhasil, suami menyuruh untuk tidur kembali dan tidak usah puasa dulu. Meski berbagai posisi kepala tetap saja berdenyut, namun akhirnya bisa tertidur juga.

Waktu sahur terbangun karena alarm. Masih niat ingin puasa, namun kepala kembali berdenyut. Suami lagi-lagi menyuruh untuk tidak puasa dulu, karena khawatir dengan debay yang ada dalam rahim. Sukses hari ke-empat bolong. Kepala sudah mulai mereda ketika jam berangkat kantor tiba. Pengennya sih tidur, namun badan sepertinya masih bisa dipaksa untuk ngantor.

Tiba dikantor, perutku mulai bergejolak. Kepala masih berdenyut. Pengen ijin pulang namun malu rasanya. Ditahan. Hingga mendekati pukul 11 siang, perut kepala semakin tidak karuan. Aku putuskan untuk dibawa tidur di mushola, ijin nambah jam istirahat. Alhamdulillah setelah tidur sekitar 45 menit perut mereda dan kepala sedikit lebih ringan. Meski bawa bekal, aku memilih untuk tidak makan siang. Perut diisi lagi setelah nyampai rumah pukul 4 sore. Setelah makan, aku bawa buat tiduran karena sudah sore kalau tidur beneran takut tambah pusing. Kondisi semakin membaik, Alhamdulillah.

Alhamdulillah hari ke-empat sudah bisa puasa kembali. Semoga tidak terjadi drama lagi. Aamiin.

Penghujung Juni 2017/5 Ramandhan 1438 H

   

Tuesday, May 30, 2017

Drama Kehamilan Trimester Pertama

Tuesday, May 30, 2017 0 Comments


Hamil. Satu kata berjuta rasanya. Kenapa demikian? Ada berbagai cerita yang mengalir dalam setiap episode ini. Setiap orang berbeda-beda, tergantung Alloh ngasihnya dan masing-masing orang menerimanya. Aku, tergolong Alhamdulillah, masih dalam batas normal dan aku wajib bersyukur untuk itu. Meski tetap saja, mengeluh.

Baiklah, aku akan memulai cerita drama yang terjadi selama masa kehamilanku ini. Ceritanya tergolong telat sih, melihat usia kehamilanku sudah memasuki trimester ke-dua. Namun tidak ada kata terlambat untuk berbagi dan bersyukur.

Inilah drama kehamilanku selama trimester pertama.

Rasa cinta terhadap ibuku kian membesar, kerinduan terhadapnya makin membara. Ini semakin terasa tatkala dirundung berbagai rasa ketika hamil, apalagi dimasa kehamilan trimester pertama. Tubuh rasanya menjadi berbeda dan ngga karuan, perasaan menjadi lebih sensitif. Aku baru ngrasain beratnya menjadi ibu itu dirasakan semenjak masa kehamilan. Emang Al Qur’an itu kitab paling jitu, eh sempurna maksudnya. Dalam surat Lukman ayat 14 disebutkan bahwa Ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. Ini jelas banget kan, bahwa dari hamil aja udah ngrepotin, belum ketika udah lahir, balita, remaja dan bahkan sampai dewasa juga masih ngrepotin.

Kembali ke cerita, awalnya tahu kalau sudah hamil adalah munculnya mual-mual hingga muntah yang berlangsung lebih dari satu pekan. Aku kira karena asam lambung meningkat seperti biasanya, jadi dibiarin saja sambil terus minum madu. Dalam batas yang biasanya sudah normal, namun ternyata masih berlanjut ditambah drama badan panas. Belum curiga sih, walaupun memang sudah telat haid, soalnya waktu telat haid 5 hari dicoba testpack hasilnya negatif. Jadi curiganya tetap karena asam lambung meningkat. Cerita-cerita sama teman kantor, dianjurkan untuk periksa dokter saja mengingat sudah telat haid 2 minggu. Namun, aku masih ragu. Takut ngga jadi hamil terus rada kecewa gitu, ditunggulah sampai telat 2 minggu lebih. Karena penasaran, akhirnya pake testpack dulu sebelum ke dokter. Alhamdulillah positif. Dua hari kemudian, pergilah ke dokter dan ternyata usia kehamilanku sudah 7 minggu 6 hari dan janin sudah berada dalam kantung rahim. Rasanya semakin nano-nano, antara bahagia, khawatir dan perasaan lainnya.

Drama terus berlanjut, kalau pada umumnya ibu hamil pada usia trimester pertama merasakan yang namanya morning sickness, nah kalau aku ngrasain yang namanya afternoon until night sickness, mulai dari kedinginan, mual-mual hingga muntah ditambah lagi susah makan nasi. Sebenarnya susah makan nasi bukan masalah sih, karena bisa diganti dengan karbohidrat lain, hanya saja karena sudah terbiasa makan nasi jadi ribet aja kalau belum makan nasi. Kata teman-teman yang sudah hamil, semakin telat makan maka intensitas mual dan muntah juga bertambah, makanya disarankan buat ngemil kalau makan berat susah. Akhirnya makan utamanya roti, susu, pisang dan mangga. Nasi, tetap diupayakan masuk walau seringnya keluar lagi.

Sebagian orang-orang percaya sama yang namanya “ngidam” pada ibu hamil yang apabila tidak kesampaian bisa menyebabkan anaknya keluar air liurnya secara terus menerus selama balita kalau dalam bahasa jawa dikenal dengan nama ngeces. Aku tidak percaya, lebih tepatnya tidak mau percaya dan mencoba mengendalikan setiap keinginan pada makanan tertentu. Ngalamin sih peristiwa yang mungkin orang-orang menyebutnya ngidam yaitu lebih enak makan ketupat daripada nasi. Sekali ibu mertua buatin ketupat, berulang kali beli hanya biar makan nasi. Namun setelah aku pikir-pikir sebaiknya dipaksakan makan nasi dan alhamdulilah itu hanya berlangsung sekitar 2 mingguan. Ada lagi, kalau sebelum hamil suka sama telur dalam bentuk masakan apapun mendadak ngga suka, yang biasanya sering minum teh mendadak minum teh rasanya aneh. Nah, barangkali karena ada perubahan hormon di dalam tubuh ibu hamil sehingga mengalami sensitif terhadap makanan tertentu. Bukan karena ngidam. Menurutku sih gitu, karena kalau semisal anak menjadi ngeces itu karena adanya pertumuhan rahang dan gigi. Kalau menurut pakar psikologi bahwa pendidikan anak dimulai sejak dalam kandungan, nah barangkali mengendalikan keinginan adalah salat satu mendidik anak untuk mengendalikan keinginan.

Ibu hamil mungkin memang lebih gampang lelah dan ngantuk. Aku yang biasanya tidur di atas jam 10 malam, ini habis maghrib sudah ngantuk luar biasa. Naik tangga menuju jemuran saja sudah ngos-ngosan. Pulang kerja rasanya capek luar biasa, padahal kerjaan dikantor saat ini tergolong ringan dibanding sebelumnya. Makanya hamil itu amazing. Dan setiap ibu akan punya pengalaman yang berbeda-beda. Hebatnya lagi, setiap ibu akan melakukan apa saja yang terbaik untuk bayi. Aku yang kopi holic, harus terus berjuang mengendalikan. Berhenti total masih belum bisa, setidaknya mengupayakan untuk tidak setiap hari.

Kalau mendengar kisah kehamilan trimester pertama teman-teman yang lain, maka aku selalu bersyukur. Meski tetap drama dan sempat mengeluh, tetapi ternyata tidak lebih berat yang dialami oleh beberapa temanku yang lain. Ada yang sampai bed rest, muntah-muntah akut sampai-sampai minum air putih saja muntah, ada yang pusing akut hingga badan lemes, walau ada yang hamil seperti tidak hamil karena tidak ada perubahan yang berarti dan berbagai kisah lainnya. Intinya, apapun kisahnya, bagaimanapun rasanya, tetap harus bersyukur. Masih banyak saudara-saudara perempuan kita di luar sana yang ingin merasakan proses hamil namun Alloh belum memberikan kesempatan.

*Kalau mendadak bahasa tulisanku juga ikut berubah, mungkinkah ada perubahan hormon? hehehe


Diceritakan tanggal 300517